GANGGUAN irama jantung alias aritmia memang tidak sepopuler stroke dan serangan jantung. Penyakit ini memang terkesan sepele, sehingga tidak dianggap serius oleh pengidapnya.
Namun aritmia memiliki efek domino yang mematikan bagi kesehatan jika diidap terus-menerus. Satu hal yang membahayakan dari aritmia ini tidak pandang bulu, karena bisa menyerang segala usia, tua ataupun muda.
Spesialis Kardiovaskular Prof Yoga Yuniadi, SpJP(K), mengatakan, siapapun tidak boleh meremehkan penyakit aritmia. Sebab pada akhirnya bisa merusak otak secara permanen, bahkan menyebabkan kematian mendadak.
“Bila aritmia tidak tertangani dengan baik dapat dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen, hingga kematian mendadak,” jelas Prof Yoga ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (23/1/2020).
Senada, Spesialis Jantung dr Sunu Budhi Raharjo, PhD, SpJP (K), menjelaskan, ada beberapa faktor risiko yang harus dihindari untuk mencegah aritmia. Gaya hidup sehat dan stres berlebihan menjadi faktor yang mengakibatkan aritmia.
Sayangnya, gaya hidup anak muda zaman sekarang selalu berkutat dengan stres dan gaya hidupnya tidak sehat.
“Lifestyle harus ditekankan, gaya hidup seperti malas berolahraga harus ditinggalkan, jika tidak bisa meningkatkan risiko aritmia,” ujar Dokter Sunu.
Sementara itu, aritmia mengakibatkan jantung berdetak lebih cepat atau lebih lambat dari semestinya. Biasanya aritmia menyerang orang berusia lanjut, namun anak muda juga bisa terkena jika pola hidupnya tidak sehat.
Normalnya jantung berdenyut 50-90 kali per menit, saat denyut jantung lebih cepat, akan berdetak hingga 200 kali per menit. Sementara jika denyut jantung melambat, akan berdetak 40 kali per menit.
(Dewi Kurniasari)