Alih-alih fokus mencari solusi, perilaku menilai kebahagiaan justru dapat mencegah Anda untuk mencapai tujuan hidup, bahkan memicu depresi.
“Kami mengamati ketidakmampuan peserta untuk memusatkan perhatian sambil merasakan serangkaian emosi adalah faktor utama dalam penelitian ini bahwa mereka tidak bisa menikmati pengalaman positif,” kata penulis studi Dr Julia Vogt.
Berjuang untuk kebahagiaan juga dapat menyebabkan seseorang menghindari situasi atau permasalahan yang sangat pelik, namun dapat mendatangkan sejumlah manfaat jangka panjang. Misalnya, tidak belajar untuk ujian karena terlalu stres, padahal masalah tersebut hanya berlangsung pada momen tersebut.
Dalam percobaan kedua, para peneliti kembali melakukan survey kepada sejumlah mahasiswa di Inggris. Kali ini mereka mencatat kewarganegaraan mereka. Dari 299 peserta, hampir tiga perempat (73.2%) adalah orang Inggris.
Mereka disajikan kuesioner yang sama seperti sebelumnya, serta beberapa pernyataan tambahan seperti, “Saya merasakan sukacita ketika saya memikirkan hal-hal baik di masa yang akan datang,” dan “Saya senang melihat kembali momen-momen bahagia di masa lalu,”.
Hasilnya pun sama. Menghargai atau menilai kebahagiaan lagi-lagi berkaitan erat dengan gejala depresi. Peserta asal Inggris bahkan diklaim lebih berisiko dibandingkan peserta non-Inggris atau berkewarganegaraan ganda.
“Ini mendukung asumsi bahwa hubungan antara menghargai kebahagiaan dan kesejahteraan juga berkaitan dengan budaya suatu negara,” catat para peneliti.
Budaya Barat mungkin menghargai ‘emosi positif yang membangkitkan gairah dan semangat yang tinggi’. Namun ketika hal tersebut tidak terpenuhi, justru bisa memicu depresi, tambah mereka.