Kasus seperti ini lebih sering terjadi bagi mereka yang sengaja melakukan aborsi karena memang tidak menginginkan kehadiran sang cabang bayi, bukan karena alasan kesehatan.
"Bila sudah menempel, nantinya akan memengaruhi karma si ibu. Misalnya dia akan sulit mendapatkan rezeki. Atau kalau nanti sudah menikah malah susah dapat anak, atau karmanya hanya bisa punya anak laki-laki semua," jelas Furi.
Furi melanjutkan, bagi perempuan yang merasa bersalah telah melakukan aborsi, mereka biasanya memilih untuk memelihara luk thep dan memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Jadi di luk thep itu sudah ada kayak tato atau sudah dirajah. Istilahnya sudah diberkati dengan serangkaian doa. Jadi si perempuan harus ngasih dia susu, makan, minum, dan memperlakukannya dengan baik karena arwah di dalamnya kurang kasih sayang," ungkap Furi.