Berkat pengabdiannya itu, ia pun didapuk sebagai dokter teladan Nasional dan diundang langsung untuk menerima penghargaan di Istana Negara. Berbekal pengalaman yang ia miliki, pada tahun 1996, Taufik memutuskan untuk mengambil spesialis kandungan di Universitas Indonesia.
Keputusan tersebut rupanya dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain karena memang ia tertarik dengan bidang tersebut, Taufik juga mengaku mendapat saran dari senior-seniornya yang telah mengambil spesialis kandungan.
Alasan lainnya, ia ingin memperbaiki nasib setelah menikahi wanita pujaan hatinya pada tahun 1993. Dari pernikahan ini, Taufik dikarunia tiga orang anak. Dan untuk menghidupi keluarganya, ia menjatuhkan pilihannya untuk menjadi dokter spesialis obsteri dan ginekologi (kandungan).
"Jadi di dunia kedokteran itu ada 4 spesialis unggulan yang paling banyak dipilih orang yakni, kandungan, bedah, anak, dan penyakit dalam. Waktu itu bisa dibilang lagi jaman susah. Akhirnya saya pilih SpOG karena saya pikir lebih menjanjikan. Tapi kembali lagi, yang namanya rejeki, Tuhan juga yang menentukan," papar dr. Taufik.
Dia pun harus kembali mengenyam pendidikan selama empat tahun lebih. Baru pada 2000, Taufik berhasil menyematkan gelar SpOG di belakang namanya.
Namun perjuangan belum berakhir, Taufik terus menggali potensi diri hingga mendapat tawaran untuk bekerja di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta Pusat. Di tempat ini, ia mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu di Negeri Kangguru, Australia.
"Saya dikirim untuk memperdalam ilmu tentang kebidanan dan bayi tabung. Kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 20 tahun saya menekuni bidang ini," ucap dr. Taufik.