“Untuk mencetak SDM yang pintar dan berbudi pekerti luhur harus didahului oleh SDM yang sehat dan kuat. Bukan hanya calon ibu, tetapi kita juga harus mempersiapkan calon ayah dan lingkungan yang sehat sehingga seluruh komponen, dari lingkungan terkecil, menengah, hingga besar, aman dan layak untuk anak-anak Indonesia,” tandas Pribudiarta.
Hal itu tentunya berkaitan dengan perkawinan usia anak yang diharapkan tidak terjadi lagi. Sebab, anak yang lahir dari ibu yang belum cukup umur berisiko mengalami stunting dan berdampak pada kualitas hidup anak kelak. Selain itu, secara mental, banyak pasangan yang menikah di usia dini belum siap menjadi orangtua sehingga memengaruhi pola pengasuhan anak. Kondisi-kondisi tersebut dapat menghambat terciptanya SDM yang unggul.
(Dinno Baskoro)