Seberapa bahaya penyakit ini?
Camat Sudimoro, Wawan Pujiatmoko mengaku banyak warganya yang khawatir dengan penyebaran penyakit ini. Kekhawatiran ini juga diutarakan oleh Painen, warga Kecamatan Tulakan.
"Saya sangat khawatir sekali, masalahnya kalau di Pacitan ini kalau ada saudara atau teman yang sakit, itu pasti satu RT bisa menengok. Itu yang membahayakan malahan," kata dia.
Merujuk data Dinas Kesehatan Pacitan, saat ini ada lebih dari 50 warga Tulakan yang terjangkit virus yang menyebar melalui makanan dan minuman ini.
Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Eko Budiono menegaskan bahwa penyakit hepatitis A ini adalah penyakit hepatitis yang paling ringan.
"Hanya 0,13-0,35% kasusnya bisa dominan, artinya memuncak tinggi tapi ini bisa sembuh dengan sendirinya," kata dia.
"Istilahnya, penyakit ini tidak membunuh, tapi sangar karena mudah menyebar," imbuhnya.
Achmad Yurianto dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan mengatakan meski Hepatitis A berpotensi menjadi wabah, namun penyakit ini bukanlah penyakit yang berbahaya.
"Hepatitis A berpotensi menjadi outbreak dan menjadi banyak tapi perjalanan klinisnya seringkali bisa sembuh dengan sendirinya," ujarnya.
Kendati begitu, dia mengatakan, penyakit ini bisa berbahaya bagi pasien yang memang kondisinya tubuhnya tidak sehat.
"Pada orang-orang yang sudah diawali kondisi tubuhnya yang tidak sehat, memang bisa menjadi parah," cetusnya.
Secara umum, kondisi badan mereka yang terjangkit virus ini tampak letih, lesu dan lemah.
"Akibat fungsi livernya terganggu untuk memetabolisme bilirubin, sehingga akan terjadi pengendapan bilirubin di mata, sehingga selaput putih mata berwarna kuning," jelasnya.
Pangkal kuku mereka juga berwarna kuning. Oleh masyarakat umum, penyakit ini kemudian disebut penyakit kuning.
Selain itu, warna cairan kecing penderita hepatitis A juga berwarna kuning kecokelatan.
"Itu adalah tanda-tanda ada fungsi lever yang tidak maksimal dalam metabolisme bilirubin."