Devi dan para dokter di sana juga tidak tahu pasti yang terjadi pada Munni. Tim dokter di rumah sakit itu tidak bisa memastikan apakah Munni mengidap virus encephalitis. “Yang saya tahu, dia sangat sehat sehari sebelumnya,“ ujar Devi. Devi dan keluarganya segera ke rumah sakit dari desa mereka pada Sabtu (15/6) setelah Mun ni bangun dengan demam tinggi. “Kondisinya tidak mem baik sejak saat itu. Dia tidak membuka matanya sejak kami tiba di rumah sakit,” tutur dia. Di rumah sakit lain di Muzzaffarpur, suasana suram jelas terlihat.
Tamanna Khatoon yang berusia empat tahun tergeletak di unit perawatan intensif di Muzzaffarpur Medical College. Ibunya, Ruby Khatoon, menangis di luar kamar pe ra - watan. “Dalam dua hari terakhir, tak ada anak dari rumah sakit ini yang bisa pulih. Semua anak telah meninggal dunia,” tutur Khatoon. Khatoon menambahkan, “Apa kah saya susah payah mem besarkan anak ini hanya untuk melihat dia meninggal seperti ini?” Pada 2012, sebanyak 390 orang, sebagian besar anakanak meninggal dunia akibat wabah encephalitis di Uttar Pradesh. Lebih dari 2.000 pasien dirawat di rumah sakit. Pada 2011, lebih dari 460 orang yang sebagian besar anakanak di India Utara me ninggal dunia dalam wabah en cephalitis terburuk.
Pada 2005, wabah encephalitis Jepang di Gorak hpur, Uttar Pradesh, menewaskan 1.000 orang yang sebagian besar anak-anak. Ini menjadi wabah terburuk sejak 1978. Sementara itu, gelombang panas di Bihar telah menewaskan 184 orang pada musim ini. Data tersebut dirilis otoritas manajemen bencana Bihar, kemarin. Pemerintah menerapkan pembatasan aktivitas warga di siang hari untuk mencegah banyaknya korban jiwa radang otak. Otoritas juga melarang semua pekerjaan kons truksi dan kegiatan luar ruangan antara pukul 11 siang dan 4 sore.
(Renny Sundayani)