Radang Otak Tewaskan 103 Anak di India

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis
Rabu 19 Juni 2019 23:37 WIB
Wabah Radang Otak Melanda India (Foto: Ist)
Share :

Sebanyak 103 anak tewas akibat wabah radang otak (encephalitis) di negara bagian Bihar, India. Selain itu, ada 200 pasien berusia di bawah 10 tahun yang masih dirawat di dua rumah sakit.

Korban tewas bisa terus bertambah karena masih banyak anak yang dalam perawatan rumah sakit. Pejabat pemerintah menyatakan sebagian besar korban itu meninggal dunia akibat hipoglikemia atau gula darah rendah. Ribuan anak tewas akibat radang otak atau encephalitis di Bihar dan Uttar Pradesh sejak kasus pertama diketahui pada akhir 1970-an. Pemerintah Bi - har mengumumkan akan menanggung biaya perawatan semua pasien yang kini dirawat. “Kami akan memberi semua dukungan pada negara bagian dan keluarga yang terkena dampak,” ungkap pernyataan Pemerintah India dilansir BBC .

Wabah itu bermula sejak Juni saat banyak korban tewas di Kota Muzaffarpur. Penyakit itu biasanya terjadi saat musim hujan dan anak-anak menjadi korban terbanyak. Hingga 2005, para dokter menyatakan mayoritas korban tewas akibat encephalitis Jepang, yakni vi - rus yang disebarkan nyamuk. Namun pada dekade lalu, anakanak meninggal akibat bentuk lain virus encephalitis dan penyebab pastinya belum diketahui. Penyakit ini mengakibatkan sakit kepala dan muntah, memicu koma, disfungsi otak, kejang, serta radang jantung dan ginjal.

Para dokter menyatakan anak-anak berumur antara enam bulan dan 15 tahun terkena dampak terburuk serta seperlima anak-anak yang selamat harus hidup dengan kondisi saraf lemah. “Sulit mengatakan dengan pasti apakah anak itu meninggal akibat encephalitis karena di sana ada sejumlah alasan di balik kematian itu. Ini bisa juga karena gizi buruk, kurangnya kadar gula dan sodium, atau ketidakseimbangan elektrolit,” ujar Dr Mala Kaneria. Kaneria menjelaskan, beberapa kematian bisa diakibatkan karena makan buah leci saat perut kosong.

Buah leci mengandung racun yang menghalangi kemampuan tubuh memproduksi glukosa bisa memengaruhi anak kecil yang kadar gula darahnya sudah rendah karena mereka tidak makan malam. Kondisi para pasien anak itu sangat memprihatinkan. Di unit perawatan intensif pediatrik di Rumah Sakit Shri Krishna Medical College anakanak terdengar menangis. Babia Devi menangis karena putrinya Munni yang baru berumur lima tahun tergeletak di dalam kamar perawatan khusus. Devi tidak yakin putrinya bisa keluar dari rumah sakit dalam kondisi hidup. “Dokter telah mem perkirakan Munni tidak akan hidup. Ta pi, saya tidak tahu apa yang terjadi pada Munni. Saya tahu, dia sebelumnya sehat dan riang,” kata Devi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya