Kondisi ini ternyata juga dirasakan oleh para milenial ibu kota. Mereka seolah memiliki permasalahan dan kekhawatiran yang tidak jauh berbeda dengan Ray. Tak heran sejak diluncurkan pada 3 September 2018, “Public Feelings & Other Acts” menjadi salah satu buku terlaris di sejumlah toko buku di kawasan Jakarta Selatan.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ray dalam merampungkan buku perdananya. Ia menulis seluruh teks pada buku tersebut hanya dalam kurun waktu 2 bulan. Sementara foto-foto yang menghiasai setiap halaman dikurasi dari kumpulan foto yang ia abadikan selama di New York.
“Kalau boleh jujur, gue bikin buku ini seperti bikin skripsi. Yang pertama kali gue kerjakan itu membuat daftar isi. Layout dan foto-foto direvisi oleh editor,” terangnya.
Meski banyak pembaca yang mengaku sangat relateable dengan tulisan-tulisanya, Ray mengatakan enggam mengklaim bahwa "Public Feelings & Other Acts" melambangkan kondisi generasi milenial saat ini.
“Semua orang punya journeynya masing-masing. Inti dari buku ini, gue ingin menyampaikan, 'tidak apa-apa loh kalau kalian merasa bingung dan gelisah dengan kehidupan'. Oleh karena itu, di setiap chapter gue kayak ngasih ruang bagi pembaca untuk menempatkan posisi mereka sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, pameran Gallery of Anxiety yang digelar di Kopi Manyar, Bintaro, Jakarta Selatan, merupakan rangkaian acara peluncuran “Public Feelings & Other Acts”. Seluruh instalasi dan film yang diputar pada pameran ini juga diadaptasi dari tulisan-tulisan pada buku tersebut.
“Kenapa baru bikin book launch sekarang? Karena buku ini adalah karya pertama gue. Kalau gue bikin bertepatan dengan rilisnya buku, gue takut gak ada yang datang dan peduli. Gue juga gak mau bikin book launch yang hanya diisi talk show. Kalau kayak gini kan insyaallah lumayan seru untuk didatangi,” tutupnya.
(Helmi Ade Saputra)