Mengenal LSD, Narkoba yang Diduga Digunakan Hanbin iKON

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Rabu 12 Juni 2019 16:00 WIB
Hanbin diduga menggunakan LSD (Foto : Allkpop)
Share :

Sampai pada tahun 1943 ia secara tidak sengaja menggunakan obat itu sendiri. Hoffman tiba-tiba merasakan sensasi luar biasa meski hanya menggunakan dengan dosis yang sangat ringan sekitar 25 mikrogram (kira-kira sama dengan berat beberapa butir garam).

Dalam perkembangannya, LSD sempat digunakan dalam penelitian oleh para psikater dari tahun 1940-an – 1960-an. Kandungan zat kimia yang terdapat pada obat ini diklaim memiliki kesamaan dengan zat kimia yang ada di otak. LSD kemudian dipopulerkan pada tahun 1960-an oleh sejumlah orang seperti Timothy Leary yang mempromosikan penggunaan obat ini kepada para pelajar Amerika.

Tindakan Leary memicu penyalahgunaan narkoba hingga menyebar ke sejumlah negara Eropa dan bagian lain dunia. Namun di tahun 1980-an, penggunaan LSD diklaim mengalami penurunan dan kembali meningkat pada tahun 1990-an. Barulah pada tahun 1998, LSD mulai digunakan di kelab-kelab malam dan pesta oleh para anak muda.

Efek samping halusinogen

National Institute on Drug Abuse menebut bahwa halusinogen merupakan kelompok obat-obatan yang dapat mengubah kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang. Halusinogen umumnya dibagi menjadi dua kategori yakni, halusinogen klasik (seperti LSD) dan obat disosiatif (seperti PCP).

Kedua jenis halusinogen ini dapat menyebabkan halusinasi atau sensasi tertentu hingga membuat gambar tampak nyata meskipun sebenarnya tidak. Tidak hanya itu, efek samping halusinogen klasik juga dapat mengganggu sistem komunikasi antara zat kimia otak dan sumsum tulang belakang. Sehingga akan memengaruhi kerja serotonin yang selama ini diketahui mengatur suasana hati, rasa lapar, suhu tubuh, perilaku seksual, hingga persepsi sensorik.

Perlu digaris bawahi bahwa pengaruh LSD ini tidak dapat diduga dan tergantung pada jumlah yang digunakan, suasana hati, dan kepribadian pemakainya serta lingkungan.

Kemudian ada juga istilah bad trips yang menimbulkan efek delusi (penilaian yang salah tentang diri sendiri atau lingkungan). Oleh karena itu, bila digunakan secara berlebihan atau sudah ketergantungan akan menyebabkan kebingungan, cemas, merasa tak berdaya, putus asa, skizofrenia (gangguan jiwa), meningkatkan risiko kegagalan pernapasan, hilangnya kendali diri, hingga melakukan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya