Akhirnya setelah beberapa minggu diberi krim obat oleh dokter, keadaan Ryu pun berangsur-angsur membaik. Namun setelah kontrol dokter yang kedua, Papeeryuzio dan sang istri memutuskan untuk merawat Ryu sendiri, sebersih mungkin karena kala itu kondisi keuangan keduanya yang tidak memungkinkan untuk kembali ke dokter, mengingat biaya perawatan di rumah sakit tersebut disebutkan Papeeryuzio tidaklah murah.
Mengalami kejadian naas ini, Papeeryuzio mengaku sejak saat itu ia menjadi orangtua dengan pribadi yang skeptis, sensitif, dan bisa meledak emosinya jika melihat sang anak tercinta sembarangan dipegang-pegang oleh tangan orang lain.
Terakhir, dalam unggahannya Papeeryuzio berpesan, belajar dari pengalaman ini ia sebagai orangtua menghimbau kepada masyarakat untuk bisa menahan diri untuk tidak menyentuh dan memegang sembarangan anak orang lain selucu apapun tampilan anak tersebut, tidak dengan tangan dan tidak juga mencium sembarangan. Sebab pada dasarnya kita sendiri tidak mengetahui seberapa kotor tangan kita, dan ada penyakit apa yang terdapat di dalam tubuh kita sendiri.
Papeeryuzio menegaskan, jika memang gemas dan sayang terhadap anak tersebut, sejatinya kita cukup memuji dan mendoakan anak tersebut. Bukan sibuk menyentuh, membelai, mencubit dan mencium pipi anak tersebut, yang notabene bukanlah anak kita sendiri.
Semoga kisah viral ini bisa menjadi pembelajaran dan peringatan bagi kita semua agar lebih bisa menahan diri dan berhati-hati.
(Dinno Baskoro)