PEMILU meninggalkan luka, hingga kini tercatat ada 554 korban jiwa dari petugas Pemilu yang tewas. Alasan terbesar kematian ternyata bukan karena kelelahan.
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI drg. Oscar Primadi, MPH, mengatakan, banyaknya petugas Pemilu yang meninggal dipicu kelelahan. Tapi yang menyebabkan kematian adalah karena para petugas tersebut telah mengidap penyakit tertentu sebagai faktor risiko.
Dia pun memberi contoh, petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Padahal, orang yang memiliki penyakit ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, dia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang berdampak pada jantungnya.
Baca Juga: Viral Foto Bocah Menikah dengan Perempuan Dewasa, Ternyata Ini Faktanya!
Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan telah menerima laporan dari 17 provinsi yang menunjukkan kalau meninggalnya petugas Pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap si petugas menjadi semakin parah.
“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya, kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger dari pada ini (meninggalnya petugas Pemilu),” ucap Oscar dalam pernyataan resminya.
Terjadinya kematian itu, tambah Oscar, setelah diinvestigasi, korban telah memiliki riwayat penyakit dan terpicu karena kelelahan. Menurutnya, ada 13 penyakit, yang paling mendominasi jantung, kemudian infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi.
"Ini penyakit-penyakit yang memang sisi angka Riskesdas 2018 penyakit banyak diderita masyarakat kita. Ini berkaitan dengan penyakit tidak menular,” katanya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Pekan Ini, Gemini dan Scorpio Ketiban Rezeki Nomplok
Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stroke sebesar 10,9 per seribu penduduk, meningkat dari angka Riskesdas 2013 yang hanya 7 per seribu penduduk.
Penyakit jantung 1,5 % pada Riskesdas 2018, sementara Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5%, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 %.
Adapun Prevalensi gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3%. Kelelahan pun diduga memicu penyakit ini lebih cepat.