David membeberkan, praktik manajemen dan pedoman pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktifitas pariwisata di semua jenis destinasi wisata, termasuk pariwisata massal dan berbagai jenis kegiatan pariwisata lainnya.
Prinsip-prinsip keberlanjutan mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya dari suatu destinasi wisata. Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, maka keseimbangan antar 3 dimensi tersebut harus dibangun dengan baik. "Dan ini harus dilakukan dengan semangat Indonesia Incorporated,"katanya.
Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Pariwisata Kemenpar, Ni Wayan Giri Adnyani mengucapkan terima kasih atas kehadiran para nara sumber dan peserta yang hadir di acara tersebut. Giri mengatakan bahwa pihaknya mengadakan FGD ini dengan tema Penyatuan Persepsi Arah Pengembangan Wisata Alam di Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo untuk 5 (lima) Tahun Kedepan. "Kita sudah sama-sama mengetahui jika pariwisata merupakan sektor unggulan Indonesia. Sektor yang mampu menjadi pengungkit perekonomian makro secara konkrit. Karena seperti yang selalu diungkapkan pak Menteri Pariwisata Arief Yahya semakin dilestarikan maka semakin menaejahterakan,"kata Giri.
Sekadar informasi, Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 hektare. Dari luas wilayah tersebut, terdapat 3 desa yang berada di dalam TN Komodo. Yaitu Desa Komodo, Pasir Panjang (Rinca), dan Papagarang.
Lebih jauh Giri menyatakan, upaya untuk mengangkat destinasi TN Komodo dan Labuan Bajo butuh peran berbagai pihak. Antara lain komunitas lokal sebagai salah satu komponen penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan