Beredar Video Anak SD Marah-Marah pada Guru, Ini Kata Pengamat Pendidikan

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Kamis 25 April 2019 14:36 WIB
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Share :

Pihak sekolah punya tanggang jawab moral untuk memperbaiki sikap anak murid

Itje menyayangkan kasus ini bisa terjadi. Dia yakin, pasti anak tidak akan mendadak brutal seperti hari ini. Pasti anak memiliki perilaku kurang pas sejak awal dia masuk sekolah.

"Ketika anak baru masuk kelas 1 SD, mestinya sekolah SD mengawal psikologi anak, mendeteksi perilaku anak sejak awal, dan segera bekerja sama dengan orangtua agar si anak bertumbuh ke arah yang lebih normal," paparnya.

Deteksi awal ini menjadi hal mutlak dan bagi Itje, di sekolah itu tidak dilakukan. Hal ini yang kemudian membuat anak menjadi lengah dan dia membawa sikap tersebut di momen pertumbuhannya. Nah, ketika anak dianggap memiliki perilaku yang kurang pas, di sekolah itu justru dia menjadi anak yang dicap anak nakal.

Di mana, menurut Itje, tindakan tersebut malah membuat si anak bangga! Kenapa? Karena si anak akhirnya punya kespesialan dalam dirinya. Hal itu bisa dianggap istimewa, karena si anak tidak memiliki keahlian lain yang membuat dia spesial atau istimewa.

"Si anak akan mengambil sisi itu sebagai manifestasi kebanggan dirinya, ini saya sayangkan sekali," keluh Itje.

Peringatan untuk sekolah

Itje memperingatkan kepada guru sekolah dasar untuk memperhatikan perkembangan psikologis anak murid. Jadi, saat anak masuk sekolah kelas 1 SD, pihak sekolah sudah deteksi, ini anak kecenderungan kemana, apa yang kemudian harus dilakukan.

"Karena itu, sekolah harus bekerja sama dengan orangtua secara intensif untuk membentuk kepribadian si anak yang lebih baik. Saya membayangkan anak-anak dengan orangtua bermasalah, maka sekolah harus berupaya ekstra. Sebab, sekolah bukan tempat pembiaran, tapi sekolah tempat pendidikan," tegasnya.

Ketika di sekolah ada anak yang "bermasalah", maka sekolah harus memberikan tenaga lebih. Sebab, kalau sudah menjadi kristal, si anak akan merasa kalau dirinya adalah seseorang yang dia pikirkan. Kalau negatif, ini akan menjadi masalah di kemudian hari.

Dalam kasus ini, apakah sekolah cuci tangan?

Itje mencium ke arah sana. Lalu, dia menyarankan agar sekolah tidak boleh bersikap seperti itu. Di mana sekolah malah menyudutkan si anak dengan sikapnya yang bisa dibilang brutal atau malah menyalahkan keadaan dari si anak itu sendiri.

"Ingat, sekolah punya kewajiban untuk tidak meratakan perilaku. Sekolah itu komunitas, jadi, sekolah tidak bisa hanya mau menerima anak yang bisa diatur, tapi sekolah berhak menerima anak dengan kondisi apapun dan tugas sekolah untuk menjadi solusi agar si anak tidak mengambil manifestasi yang keliru dalam dirinya. Sekolah punya tanggung jawab moral untuk mengatasi masalah ini," paparnya.

Terlebih, sambung Itje, dalam kasus ini sekolahnya adalah negeri. Karena itu, sekolah harus berorientasi pada masyarakat dan mau bertanggung jawab dan memiliki kewajiban untuk membenahi anak bangsa.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya