Pesta demokrasi Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 telah usai. Namun sayangnya, dampak dari pesta demokrasi ini masih menghantui masyarakat Indonesia, terutama menyangkut masalah kesehatan yang dialami para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
Menurut data yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), hingga Selasa, 23 April 2019, jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia bertambah menjadi 119 orang. Pasca Pilpres 2019, masyarakat Indonesia memang sempat dihebohkan kabar meninggalnya petugas KPPS dari berbagai daerah. Sebagian besar kasus tersebut dikaitkan dengan kondisi korban yang kelelahan.
Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD, menjelaskan bahwa dalam beraktivitas waktu manusia idealnya terbagi menjadi tiga. Sepertiga untuk bekerja keras, sepertiga untuk bekerja ringan, dan sisanya untuk beristirahat termasuk tidur.
“Kalau pola ini dilanggar maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung,” ujar Dokter Ari Fahrial, saat dihubungi Okezone via pesan singkat, Selasa, 23 April 2019.
Baca Juga: Rutin Konsumsi Buah Ini Bantu Cegah Diabetes Tipe 2
Ari menjelaskan, hari-hari setelah Pilpres merupakan hari-hari yang berat bagi penyelenggara Pemilu baik ditingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, pusat dan provinsi. Masa-masa penghitungan suara, proses pencocokan belum lagi tuntutan deadline merupakan stres berat yang menghantui para penyelenggara Pemilu. Kondisi ini tentu akan memperburuk kondisi kesehatan mereka.
“Tubuh kita ini ada batasnya, diibaratkan sebagai mesin mobil, tubuh manusia pun perlu istirahat. Jika terus dipaksa untuk beraktivitas maka tubuh kita akan mengalami kelelahan. Dampak kelelahan ini adalah gangguan kesehatan secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis dan menurunnya daya tahan tubuh seseoarang,” tegas Ari.
Kelelahan serta stres yang tinggi juga akan sangat mengganggu proses metabolisme dan hormonal di dalam tubuh manusia. Kelelahan terjadi karena dipaksanya fisik dan mental untuk bekerja secara terus-menerus tanpa istirahat yang cukup.
Selain itu kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat seperti bising, suhu ruangan yang panas serta asap rokok di dalam ruangan juga akan memperburuk kondisi yang ada.
Baca Juga: Cerita Butet Kartaredjasa Pasca Serangan Jantung, Masih "Bandel" Makan Tongseng!
Sebagaimana diketahui bahwa dalam proses penghitungan suara rekapitulasi suara para anggota PPS dan PPK bekerja terus menerus untuk menyelesaikan proses penghitungan suara tersebut. Hal ini terjadi karena mereka harus memenuhi batas waktu dalam penyelesaian proses penghitungan suara.
“Biasanya mereka bekerja dalam ruangan-ruangan yang pengap dan umumnya dengan dibumbui asap rokok yang diisap oleh orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut. Kondisi ini jelas akan memperburuk kelelahan yang terjadi,” tambahnya.
Dampak kelelahan ini dapat berakibat serius bagi kesehatan dan kondisi itu diperburuk oleh konsumsi rokok yang terus-menerus disertai konsumsi suplemen dan minuman berenergi yang umumnya mengandung ginseng dan kafein.
Kelelahan berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan sistem pencernaan, gangguan sistem jantung dan pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak serta penurunan daya tahan tubuh.