TATO identik dengan pria dan pekerja seni. Mereka yang tidak bisa melihat tato sebagian karya atau ide tentunya akan mengecam keras dan menganggap itu adalah tindakan yang kurang bijaksana.
Menato tubuh dianggap sebagai hal yang bukan hanya menyakiti diri sendiri tetapi juga membuat tubuh menjadi rusak dan tidak lagi indah. Terlebih jika bentuk tatonya teramat besar. Persepsi ini tentu keliru karena menato tubuh adalah hak dari setiap individu dan jika Anda melihatnya dari sudut pandang si pemilik tato, ya, Anda tidak akan memberikan penghakiman semacam itu.
Terlepas dari kontroversi tato itu sendiri, siapa sangka kalau di Turki, yang notabene negara Islam, perempuan ada yang ditato, lho. Penasaran siapa saja yang melakukannya dan tatonya ditempatkan di mana?
Mari berkenalan dengan Ayse Yusufoglu. Dia adalah satu dari banyak perempuan Turki tenggara yang melakukan ritual menato tubuh dengan maksud agar banyak pria yang mau dengan mereka. Ya, tato dijadikan alat sebagai "pancingan" supaya pria mengejar-ngejar si perempuan.