Berapa Hari yang Ideal untuk Mengambil Cuti?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 11 April 2019 16:26 WIB
Liburan (Foto: Mirror)
Share :

Kebahagiaan yang kita peroleh saat liburan memang bergantung pada apakah kita bebas memilih aktivitas yang ingin kita lakukan, menurut penelitian yang diterbitkan di Journal of Happiness Studies.

Penelitian itu menemukan bahwa ada beberapa jalur menuju kebahagiaan, termasuk melakukan aktivitas yang menantang kita dan menyediakan kesempatan untuk belajar, termasuk aktivitas bermakna yang membawa tujuan penting pada hidup kita, seperti menjadi relawan.

Jika aktivitas yang berbeda membuat orang bahagia, maka titik kepuasan adalah sesuatu yang sangat pribadi, kata Leaf Van Boven, profesor psikologi dan ahli saraf di University of Colorado di Boulder.

Dia meyakini bahwa aktivitas yang kita lakukan saat liburan bisa mempengaruhi titik-titik kepuasan itu.

Salah satu pertimbangan yang penting, menurutnya, adalah energi fisik serta psikologis yang dibutuhkan untuk menyelesaikan aktivitas tersebut. Beberapa aktivitas bisa melelahkan secara fisik bagi beberapa orang, seperti trekking di pegunungan.

Aktivitas lain, seperti berpesta, bisa melelahkan secara fisik dan mental. Van Boven mengatakan bahwa pada liburan yang melelahkan, "titik kepuasan bisa terjadi di tingkat konsumsi yang lebih rendah daripada yang diharapkan orang-orang".

Namun perbedaan individu ini cukup besar, menurut Ad Vingerhoets, seorang profesor psikologi klinis di Tilburg University di Belanda.

Menurutnya, ada beberapa orang yang merasa bahwa liburan yang aktif justru menambah energi mereka, dan bersantai di pantai malah melelahkan, atau sebaliknya.

"Memilih aktivitas yang cocok dengan selera pribadi, dan membatasi aktivitas yang melelahkan bagi kita, bisa menunda titik puas ini," katanya. Tapi belum ada penelitian yang bisa memastikan apakah hipotesis ini benar.

Pilih suasana liburan

Faktor penting lain yang harus dipertimbangkan adalah suasana tempat kita berlibur.

Contohnya, liburan di kota bisa menarik, tapi kerumunan, kebisingan dan lampu di malam hari, yang bisa mempengaruhi tidur, bisa menimbulkan stres fisik dan emosi serta kecemasan.

"Rangsangan yang konstan di kota-kota bisa membuat indera kita kewalahan dan membuat kita stres," kata Jessica de Bloom, seorang peneliti di Universities of Tampere dan Groningen di Finlandia dan Belanda.

Ini bisa terjadi jika kita beradaptasi ke budaya baru yang menantang kita.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya