BANYAK wajah kembar identik yang menghiasi sekolah-sekolah di barat daya Nigeria. Pemandangan wajah kembar dari anak-anak Nigeria seperti ini dapat dilihat di mana-mana khususnya di Igbo Ora, dimana ada spanduk bertuliskan "ibukota kembar dunia" untuk menyambut para pengunjung.
Anak kembar sudah sering terjadi dalam kelompok etnis Yoruba yang mendominasi bagian Nigeria ini. Sebuah studi tahun 1970-an oleh ginekolog Inggris menemukan bahwa sekitar 50 pasang kembar lahir dari setiap 1.000 kelahiran di barat daya - salah satu tingkat tertinggi kelahiran kembar di dunia.
BACA JUGA : Terduga Pelaku Penganiayaan Audrey Posting "Boomerang" di Kantor Polisi, Psikolog Analisis Kejiwaan Mereka!
Dalam budaya Yoruba, anak kembar sudah menjadi begitu umum sehingga mereka secara tradisional diberi nama spesifik. Mereka disebut Taiwo atau Kehinde tergantung pada apakah mereka dilahirkan sebagai anak pertama atau kedua. Namun, bahkan untuk orang Yoruba, Igbo Ora dianggap luar biasa. Di antara hampir 100 anak sekolah menengah yang berkumpul di waktu istirahat, bisa terlihat 9 pasang anak kembar.
"Ada begitu banyak anak kembar karena daun okra yang kita makan," kata Kehinde Oyedepo, 15 tahun, salah satu dari si kembar,dikutip dari alarabiya, Rabu (10/4/2019). Daun tersebut digunakan untuk membuat rebusan yang populer di Igbo Ora.
Yang lain juga mengatakan ada makanan populer lain yaitu Amala - hidangan lokal yang terbuat dari ubi dan tepung singkong. Satu teori adalah bahwa ubi rambat mendorong produksi gonadotropin, zat kimia yang merangsang produksi telur.
Ekujumi Olarenwaju, seorang dokter kandungan kebidanan yang berbasis di Lagos, sekitar 160 km jauhnya, percaya penyebab fenomena ini terjadi adalah pada makanan, karena jenis ubi yang sama dimakan di tempat lain di dunia tidak menghasilkan fenomena yang sama. Ia mengakui kalau secara ilmiah memang belum ada jawaban yang tepat, namun warisan menjadi salah satu alasan kenapa fenomena ini terjadi.
“Salah satu alasan yang masuk akal adalah aspek warisan atau keturunan, karena mungkin selama bertahun-tahun mereka menikah, mereka sekarang memiliki gen yang terkumpul dan terkonsentrasi di lingkungan itu,” ujarnya.
Tetapi para wanita yang menjual tumpukan daun okra di pasar kota tidak setuju. Mereka mengatakan tradisi lokal tentang bagaimana daun dikonsumsi sangat penting. Misalnya, rebusan yang terbuat dari daun harus segera dimakan dan tidak pernah disimpan. Oyenike Bamimore, yang menjual roti, mengatakan bahwa dia adalah bukti hidup bahwa diet adalah penyebabnya.
BACA JUGA : Heboh Foto Mesra Jedar dan Pacar di Bali, Netizen : Gila Belum Nikah Aja Udah Begini Fotonya!
"Karena saya banyak makan daun okra, saya melahirkan delapan pasang anak kembar," tuturnya.
(Dinno Baskoro)