Tuberkulosis alias TB merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian. WHO memperkirakan kematian akibat TB lebih banyak daripada kematian akibat malaria dan AIDS.
Seperti dikutip dari Hellosehat, tidak hanya menyerang orang dewasa, TB juga dapat menyerang anak-anak. Diperkirakan 10-15% kasus TB di Indonesia menyerang anak berusia 0-14 tahun.
Perbedaan tuberkulosis orang dewasa dan tuberkulosis pada anak
Tuberkulosis pada anak merupakan kasus unik dan mempunyai permasalahan yang berbeda dengan TB orang dewasa. Laporan tuberkulosis anak di Indonesia pada tahun 2012 menyatakan jumlah kasus TB anak adalah sebanyak 8,2% dengan angka bervariasi antara 1,7-15,6% dari tiap provinsi. Perbedaan mencolok ini menunjukkan bahwa tidak mudah mengenali tuberkulosis pada anak karena gejalanya yang tidak khas seperti pada TB orang dewasa.
Kadang kala orangtua melarikan anaknya ke rumah sakit karena gejala lain, yang sekilas seperti tidak ada hubungan dengan penyebab kematian anak terbesar di negara- negara berkembang ini. Oleh sebab itu, yuk kita belajar cara mengenali infeksi TB pada anak agar putra-putri Anda dapat tertangani lebih segera.
Dua cara deteksi awal tuberkulosis pada anak
Kasus TB pada anak layaknya bongkahan gunung es di lautan. Jumlahnya banyak, namun sering kali orangtua terlambat mengenali. Sebenarnya ada dua pendekatan yang cukup mudah yang dapat kita lakukan sebagai deteksi awal, yaitu investigasi terhadap anak yang kontak erat dengan pasien TB dewasa aktif dan menular, serta anak yang datang ke pelayanan kesehatan dengan gejala dan tanda klinis yang mengarah ke TB.
Anak yang kontak erat dengan pasien TB menular
Kontak erat yang dimaksud adalah anak yang tinggal serumah atau sering bertemu dengan pasien TB menular, misalnya anggota keluarga, tetangga, atau kerabat yang sehari-hari berinteraksi dengan anak. Laporkan segera bila di rumah Anda ada yang menderita TB menular, baik TB paru atau TB lainnya. Biasanya TB menular diderita oleh pasien dewasa yang hasil pemeriksaan dahaknya menunjukkan adanya kuman (biasanya disebut BTA positif). Walaupun anak tidak menunjukkan gejala sakit, Anda wajib memeriksakan anak pada dokter untuk dilakukan skrining TB dan upaya pencegahan