Nah, untuk menyambung hidup, salah seorang warga, Hernawati, mengaku mulai bertani kembali sejak 3 bulan setelah gempa. Itu dia lakukan tentu untuk menyambung hidup. "Ya, kalau enggak gini, mau hidup bagaimana?" ucapnya singkat.
Dari satu kwintal beras yang dipanen, dia mengaku mendapatkan upah Rp500 ribu. Upah tersebut dia pergunakan untuk mengelola sawahnya lagi dan tentunya menyambung hidup.
Meski sudah terlihat menjalani aktivitas dengan normal, tapi Hernawati mengaku dirinya masih trauma akan adanya gempa susulan. Masih terbayang di ingatannya kepanikan masyarakat yang lari menyelamatkan diri demi menghindari bangunan runtuh.
"Saya percaya, gempa yang terjadi di Lombok itu karena kehendak Tuhan. Bagaimana pun, kita nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Sekarang, kita harus bangkit dan tetap hidup," katanya sedikit haru.
Saat ini, Lombok terus berbenah, dan masyarakat pun mulai kembali menjalani hidup, di tengah banyaknya cobaan yang harus dilalui. Walau begitu, semangat dan gotong royong masyarakat Lombok untuk bangkit bisa menjadi contoh untuk siapa pun agar tetap kuat menjalani hidup.
(Martin Bagya Kertiyasa)