SENYUM hangat masyarakat Dusun Kapu, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, menyambut para pendatang memasuki permukiman mereka. Meskipun tersenyum, namun kesedihan tetap tergambar di wajah mereka, dengan mata berkaca-kaca sambil menjabat tangan dengan ramah.
Sekilas Okezone melayangkan pandang ke daerah yang terkena gempa tersebut. Beberapa rumah memang runtuh dan sebagian rusak akibat gempa yang menerjang pada Juli 2018. Tetapi, masyarakat Lombok Utara ini tetap tidak kehilangan harapan, mereka masih punya semangat hidup yang tinggi.
Baca Juga: Gaya Tamara Bleszynski Blusukan di Pasar Tradisional, Tetap Kece Abis
Salah satu warga setempat, Muhdin, menjelaskan setelah gempa hidup tidaklah mudah. Selain karena barang-barang yang hancur, rasa trauma akan kehilangan teman dan sanak saudara masih menghantui mereka.
"Kalau bicara sekarang, kami semua masih takut tapi rasa-rasanya tidak seperti gempa pertama kali. Semua warga tetap ada rasa khawatir, tapi mulai bisa ditangani dan sudah tahu bagaimana cara menyikapi gempa kalau terjadi lagi," ungkapnya pada Okezone di depan rumah yang sudah porak-poranda akibat gempa.
Baca Juga: Bau & Kotor, Tamara Bleszynki Blusukan ke Pasar Tradisional, Intip Apa Saja yang Dibeli?
Tapi, tidak semua orang mampu mengatasi trauma tersebut dengan baik. Banyak anak-anak di sekolah yang lari kocar-kacir ketika tengah belajar, lantaran ada gempa yang tidak seberapa. Muhdin pun menyebut gempa awal yang besar tersebut memang membuat masyarakat lebih bijak kala menghadapi rangkaian gempa.
"Jadi, gempa besar sekali di awal. Nah, sekarang saat terjadi gempa misalnya 3 skala richter, ya kita sepeti sudah kebal. Tidak begitu takut," katanya sambil tersenyum.