SETIAP kali manusia terlelap, akan ada kesempatan untuk dirinya supaya bermimpi. Baik tidur siang maupun malam, mimpi terjadi dan terkadang masih terngiang di pikiran setelah terbangun. Mungkinkah Anda pernah mengalaminya? Toh, masih banyak yang beranggapan bahwa mimpi cuma fenomena biasa dan tidak bakal terjadi.
Eh, tunggu sebentar. Bagaimana jika di masa depan nanti Anda melihat persis kejadian serupa seperti yang pernah dimimpikan dulu? Serasa menggapai mimpi jadi nyata, ini adalah yang dinamakan dengan precognitive dream atau mimpi prekognitif. Seperti yang dilansir dari situs resmi ahli spiritual Anna Sayce, adalah nyata bahwa setiap orang di muka bumi bisa mengalami mimpi tentang masa depannya.
Sayce pun pernah mendengar kisah seorang artis paruh baya dari Wales, Inggris yang bermimpi tentang sebuah rumah berada di sisi pedesaan. Wanita ini melukiskan setiap rinciannya. Lalu, beberapa bulan, ia jatuh cinta pada seorang pria. Sang pujaan hati mengajak wanita itu ke rumahnya yang persis sekali dengan apa yang ia lukis. Ia pun menunjukkan lukisan itu pada si pria dan keduanya tinggal di rumah tersebut.
Nah, bagi Anda yang punya pengalaman serupa, Sayce punya dua jawaban terhadap mimpi prekognitif ini. Pertama, mimpi jenis ini bisa bertindak sebagai suatu peringatan pada diri Anda. Mimpi ini adalah penolong bagi Anda dalam menentukan pilihan hidup. Berbeda dengan sekuel video permainan yang bisa diulang, hidup Anda hanya sekali dan harus pintar dalam menata pilihan. Mimpi ini bisa hadir membantu Anda menentukan rute mana yang mau diambil, mirip seperti butterfly effect.
Kedua, mimpi ini menunjukkan bahwa Anda sudah berada dalam pilihan yang tepat, lho. Bisa jadi Anda mengingat segala detil dari lingkungan atau peristiwa yang persis terjadi di dalam mimpi. Hampir terdengar seperti fenomena déjà vu? Memang mirip, hanya saja, déjà vu terjadi kala Anda dalam kondisi bangun atau tersadar.
Mimpi prekognitif juga erat kaitannya dengan bepergian waktu atau time travelling. Tapi, perlu diingat bahwa menurut Sayce, Anda tidak bisa mengasah kemampuan mimpi ini. “Saya rasa tidak ada gunanya mengembangkan karunia ini untuk menelaah bencana alam di dunia, karena tidak ada manfaatnya,” jelas Sayce. Jadi, anggaplah bahwa mimpi ini sebagai pihak ketiga dalam menentukan pilihan Anda untuk masa depan.
(Santi Andriani)