Istri Ustadz Maulana Meninggal karena Kanker Usus, Hal Ini Harus Diperhatikan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Senin 21 Januari 2019 08:15 WIB
Nuraliyah Ibnu Hajar Meninggal Karena Kanker Usus (Foto:
Share :

KABAR DUKA menyelimuti keluarga dai kondang Ustadz Maulana. Pasalnya, sang istri yang bernama Nuraliyah Ibnu Hajar meninggal dunia Minggu, sore, 20 Januari 2019.

Kepada Okezone, Ustadz Maulana menjelaskan bahwa penyakit kanker usus menjadi penyebab sang istri menghembuskan napas terakhirnya. Kini, jenazah sudah ada di rumah duka di Jalan Satando, Makassar.

Sebelumnya, sang istri ternyata sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Rencana untuk membawa sang istri ke Malaysia untuk pengobatan lebih lanjut pun kandas. Tuhan lebih memilih mengambil sang sitri lebih dulu.

"Kanker usus ini sudah ditemukan pada September 2018, tapi sudah ada sejak tujuh tahun yang lalu. Istri saya tidak mau dioperasi dan di Malaysia ada rumah sakit yang bisa menangani penyakit ini dengan laser tanpa operasi. Rencananya Senin, hari ini (21/1/2019), saya dan istri pergi ke Malaysia, dia justru berpulang ke Rahmatullah. Kita antar ke tempat peristirahatannya," tutur Ustadz Maulana pada Okezone, seperti tercatat dalam pemberitaan Senin dini hari.

Belajar dari kasus meninggalnya istri Ustadz Maulana, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan terkait penyakit yang satu ini.

Baca juga:

Menurut penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ari Fahrial Syam, SpPD, kanker usus merupakan salah satu kanker yang menyebabkan kematian baik pada pria mau pun wanita di seluruh dunia. Penyakit ini bisa dicegah dan bisa diobati.

"Semakin dini ditemukan semakin baik prognosisnya. Jika kasus kanker usus besar ini ditemukan pada stadium awal maka harapan hidup 5 tahunnya mencapai 92 %, sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV atau lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya tinggal 12 %," katanya melalui pesan WhatsApp pada Okezone.

Gaya hidup menjadi salah satu penyebab kenapa kanker usus besar tetap bertahan sebagai penyebab utama kematian dan angka kejadian terus meningkat di tengah masyarakat.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini melanjutkan, dalam prakteknya sehari-hari, kasus kanker usus sudah umum ditemukan. Saat ini bahkan kasus-kasus baru yang ditemukan pada usia yang lebih muda. Faktor genetik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar, tetapi gaya hidup merupakan hal yang utama.

"Beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan serta kurang makan sayur dan buah. Anjuran untuk mengontrol berat badan dengan konsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak konsumsi buah karena mengandung karbohidrat merupakan anjuran yang menyesatkan," tegasnya.

Selain itu, rokok merupakan faktor risiko utama. Rokok di sini bukan saja perokok aktif tapi juga perokok pasif. "Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok aktif tapi orang terdekat dan sekitarnya. Sehingga mereka yang terkena kanker usus besar tersebut merupakan perokok pasif," ujar dr Ari.

Indonesia masih menjadi surganya para perokok karena di sini, mereka bebas merokok di mana saja. Perlu menjadi perhatian, di beberapa kota besar di negara maju sudah sulit untuk mencari tempat buat merokok.

Beberapa faktor risiko lain adalah kegemukan, kurang bergerak, dan peminum alkohol. Ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa berubah adalah umur. Mereka yang berusia di atas 50 tahun menjadi batasan umur untuk memulai skrining.

"Faktor genetik berupa riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease/IBD) sebelumnya, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes mellitus merupakan faktor risiko yang juga harus diantisipasi," katanya.

Dr Ari melanjutkan, penyakit ini awalnya tanpa gejala, oleh karena itu, disarankan kepada masyarakat yang mempunyai risiko tinggi terjadinya kanker usus besar untuk kontrol ke dokter.

"Akan dilakukan pemeriksaan skrining untuk mendeteksi secara dini penyakit ini," tambahnya.

Sementara itu, bagaimana dengan gejala yang terjadi ketika seseorang sudah mengalami kanker usus?

Dr Ari mengatakan, gejala yang timbul kalau kanker usus sudah terjadi antara lain buang air besar berdarah, pola defekasi yang berubah baik mudah diare atau sembelit secara bergantian, sakit perut berulang, berat badan turun, pucat tanpa sebab yang jelas, bahkan apabila diraba bagian perut terasa ada benjolan.

"Pemeriksaan kolonoskopi dan dilanjutkan dengan biopsi merupakan metode utama untuk menemukan kanker usus ini pada usus Anda," terangnya.

Akhirnya, sambung dr Ari, kenali faktor risiko, kontrol ke dokter jika mempunyai faktor risiko, kenali gejalanya, dan segera berobat ke dokter ada cara yang disarankan.

Jangan lupa untuk selalu menjaga agar tetap melakukan gaya hidup sehat.

"Sekali lagi penyakit kanker usus bisa dicegah dan bisa diobati. Semakin dini ditemukan semakin baik harapan hidup 5 tahun kedepan untuk pasien-pasien penyakit ini," tambah dr Ari.

(Renny Sundayani)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya