“Tapi Alhamdulillah, dalam tenun ini saya tidak menemukan kegagalan selain warnanya yang kurang stabil. Saya mau biru itu tapi keluarnya biru ini. Meskipun prosesnya diulang, pasti warnanya berubah lagi,” tuturnya.
Meski mengaku baru pertama kali mengikuti ajang busana ini di Hong Kong, ia berharap penuh supaya mode busana muslimah itu bisa diterima di semua kalangan. Mengingat Hong Kong masih minim dengan kaum Muslim. Lia ingin Indonesia menjadi salah satu pusat mode terbesar di dunia dan menjadi inspirasi untuk negara Muslim di sekitarnya, bahkan ranah dunia. Selain itu, pakaian Muslim yang dikenal sesuai dengan kultur Islam dan tidak meninggalkan khazanah kesopanan.
“Insya Allah, Indonesia bisa banyak membawa industri fesyen terutama dari yang muda, harus disokong terus,” tutupnya.
(Utami Evi Riyani)