“Waktu itu ada pengajian di masjid, ada informasi donor mata. Dan waktu itu banyak yang daftar donor, dan melihat Sudah ada yang donor. Dan saya merasa tertarik untuk memberikan kornea mata saya kepada orang yang tidak melihat,” ujar pria berusia 48 tahun ini.
Donor mata di desa ini sudah berlangsung sejak 2016. Sampai saat ini, total ada 13 pendonor yang korneanya telah diambil.
Di awal-awal program ini, warga harus menunggu petugas dari RS Mata Cicendo Bandung yang menempuh perjalanan 3-4 jam ke Tasikmalaya. Saat ini, sudah ada dua petugas kesehatan di Tenjowaringin yang bisa mengambil kornea mata, yang dikenal sebagai eksisi, secara mandiri. Hal ini memudahkan warga karena biasanya keluarga pendonor ingin segera jenazah dimakamkan.
Namun satu hal masih menjadi tantangan, siapa yang mengantarnya ke Bandung? Salah satu warga, Endang, mengatakan masih menyusun sistem pengantaran itu.
“Itu yang belum ada. Kita akan coba berkomunikasi dengan KDM dan panitia deklarasi tersebut, mudah-mudahan ada yang bersedia,” paparnya yang pernah diminta mengantarkan kornea.
KDM Tenjowaringin dan Bank Mata terus berupaya membuat sistem ini lebih efisien. Semua dibangun supaya kornea mata semakin cepat sampai kepada yang membutuhkan
(Helmi Ade Saputra)