Laparoskopi adalah sebuah teknïk bedah invasif minimal dengan menggunakan instrumen bedah berdiameter kecil (ukuran 5-10mm). "Yang biasa digunakan untuk melakukan prosedur pembedahan di dalam rongga perut," jelas Ferdhy.
Sementara itu, konsultan obstetri dan ginekologi dengan subspesialis onkologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr Ong Tjandra MMPd MKes SpOG(K-Onk) menjelaskan, operasi laparoskopi untuk kasus-kasus kandungan dilakukan berdasarkan penilaian atas kondisi masing-masing individu.
Menurut Ong, teknik operasi ini memiliki beberapa kelebihan. Antara lain, luka sayatan yang sangat kecil yaitu sekitar 7 mm, jika dibandingkan dengan luka sayatan pada operasi konvensional yang dapat mencapai 100 mm. Kemudian waktu pemulihan pasien yang relatif cepat. Juga nyeri luka paska operasi minimal dan risiko komplikasi yang relatif rendah.
Ong menjelaskan, teknologi ini juga bisa diaplikasikan pada kasus-kasus keganasan. Seperti tindakan laparoskopi untuk pengangkatan kista (laparascopic cystectomy), pengangkatan polip (histeroscoplc polypectomy), pengangkatan miom (laparoscopic myomectomy) hingga pengangkatan rahim (total laparoscopic hysterectomy) untuk kasus jinak dan ganas.
"Teknik ini membuahkan hasil yang memuaskan sehingga membantu pasien mendapatkan buah hati yang didambakan," pungkas Ong.
(Helmi Ade Saputra)