Fakta-Fakta HIV/AIDS, dari Gejala hingga Ibu Rumah tangga Penderita paling Banyak di Indonesia

Agregasi VOA, Jurnalis
Selasa 23 Oktober 2018 17:01 WIB
HIV/AIDS (Google)
Share :

KISAH tiga anak di Desa Nainggolan, Samosir, yang dilarang bersekolah karena mengidap HIV menyita perhatian publik.

Suara pro dan kontra bermunculan terkait tindakan masyarakat yang bahkan mengancam untuk mengusir ketiga anak yatim piatu berusia di bawah 12 tahun itu, karena takut tertular HIV.

Apakah benar HIV bisa menular lewat kontak pergaulan? Mengapa ibu rumah tangga tercatat sebagai salah satu kelompok profesi dengan angka AIDS tertinggi? Benarkah ada obat untuk mencegah HIV?

Berikut lima hal yang perlu Anda tahu tentang HIV/AIDS.

 Baca juga: Pria Ini Naik Eskalator dengan Kaki Melayang, Begini Caranya!

Pro-kontra netizen

Berita “Idap HIV, Tiga Anak di Samosir Dilarang Sekolah dan Terancam Terusir” di situs VOA Indonesia, telah dibaca lebih 3.000 kali dalam 12 jam sejak diunggah.

Sementara, di Facebook, berita itu sudah dibagikan hampir 100 kali dan dikomentari puluhan pembaca.

 

Seorang netizen dengan akun bernama Kristian Horison Pandumpi menulis bahwa anak-anak tersebut harus “dikarantina dengan tepat”.

Sementara, mayoritas komentar lainnya lebih bernada simpati. Misalnya, pemilik akun MrPäunk yang menekankan yang dialami tiga bocah itu adalah pertanda betapa pentingnya edukasi tentang HIV/AIDS, “agar tidak salah paham”.

 Baca juga: Siap-Siap Becek, Kafe Ini Lantainya Berair dan Ada Ikannya Loh!

Namun, komentar MrPäunk itu mendapat tentangan dari netizen lain, Maindrat Rthee Manullang, yang membalas, “edukasi bagaimana lagi? itu penyakit (HIV) menular, jadi wajar mereka khawatir.”

Ada pula yang mengekspresikan keterkejutannya membaca berita di situs VOA Indonesia ini. Ronald Sekoh menulis, “Woww… intoleran itu lebih menular dan berbahaya daripada HIV.”

Sementara Duell Fine Sobar mengungkapkan bahwa ketiga anak tersebut harusnya “dikasihani”, karena mereka “tidak berdosa, orang tuanya lah yang berdosa”.

Dia pun meminta pemerintah daerah untuk mengurus kasus ini, “jangan biarkan masalah seperti ini terabaikan.”

Setelah sebelumnya menyerukan agar ketiga anak dipindahkan dari Desa Nainggolan, Samosir dan bahkan membuka hutan bagi tempat tinggal mereka, Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, menegaskan bahwa dia “bertanggung jawab, tidak perbolehkan masyarakat mengusir mereka.”

Dia mengklaim masih mencari “win-win solution” terkait nasib ketiga anak tersebut.

 Baca juga: Tak Hanya Dalam Film, Ternyata Singapura Memiliki 1.000 Orang Crazy Rich

Apa itu HIV/AIDS? Dari mana asalnya?

HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency virus. Bedanya dari mayoritas virus lainnya, tubuh kita tidak bisa benar-benar ‘menyembuhkan diri’ dari HIV. Jadi, sekali Anda terinfeksi HIV, Anda akan hidup dengan HIV selamanya.

Berdasarkan keterangan yang dimuat di situs Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), HIV disebut berasal dari salah satu jenis Simpanse di Afrika Tengah.

Ilmuwan meyakini, “jenis HIV yang diidap simpanse itu menginfeksi manusia dan bermutasi, karena manusia memburu dan memakan hewan itu. Kemungkinan besar kita terinfeksi karena kontak dengan darah simpanse yang mengidap virus.”

Studi mengungkapkan virus dari simpanse ini pertama kali menginfeksi manusia pada akhir 1800an.

Dan HIV menyerang sistem imun, terutama sel CD4. Sel ini berfungsi membantu sistem imun melawan penyakit.

Jika tidak diobati, maka HIV akan terus membunuh sel CD4, membuat tubuh penderitanya gampang terinfeksi berbagai macam penyakit.

 Baca juga: Power Rangers Hadir di Jakarta Fashion Week 2019?

Infeksi ini pada dasarnya akan melalui tiga fase, jika tidak diobati:

Fase pertama, 2 sampai 4 minggu setelah terinfeksi, penderita akan merasakan gejala seperti flu. Ini adalah reaksi alami tubuh terhadap infeksi penyakit. Namun, banyak penderita HIV yang tidak sadar.

 

Fase kedua, berlangsung dalam jangka hingga 10 tahun. Pada tahap ini HIV bereproduksi dalam jumlah yang sangat rendah, membuat banyak penderita tidak merasakan gejala apapun. Namun, di akhir fase, jumlah virus HIV akan melonjak, dan kita beralih ke fase tiga.

Fase ketiga, adalah tahap paling parah yang disebut AIDS. Sistem imun penderita benar-benar telah rusak parah. Jumlah CD4 minim, membuat berbagai penyakit oportunisik gampang menyerang dan sulit disembuhkan.

CDC mengungkapkan gejala umum bagi orang yang sudah berada di fase AIDS adalah demam, kedinginan, sering berkeringat, merasa sangat letih dan tubuh mengurus secara drastis. Tanpa pengobatan, mereka hanya bisa bertahan hidup “selama 3 tahun”.

Meskipun hingga saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan HIV, tetapi virus ini bisa dikontrol melalui terapi antiretroviral. Dengan meminum obat ini, orang dengan HIV positif bisa “hidup sehat” dan memiliki jumlah CD4 optimal, membuat harapan hidup mereka “nyaris sama” dengan mereka yang HIV negatif.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya