Dia pun membagikan situasi perbedaan pelayanan kesehatan yang didapatkan masyarakat dulu dan sekarang. Di wilayah tersebut, fasilitas kesehatan kurang memadai, begitu juga dengan nakes. Masyarakat saat sakit memilih berobat ke negara tetangga, Papua New Guinea. Sungguh miris, karena hal itu terjadi bertahun-tahun.
"Banyak masyarakat sakit yang dibopong keluarganya sendiri. Namun, mereka tidak punya alat untuk merekam kepedihan yang mereka rasakan selama puluhan tahun," katanya.
"Sebelum ada tim Nusantara Sehat @nusantarasehat yang menetap di desa tersebut, mereka memilih berobat ke Papua New Guinea dengan jalan kaki. Karena akses jalan tidak pernah ada kejelasan," ungkap dia.
Padahal, menurut Dokter Amalia, banyak pasien yang membutuhkan bantuan nakes professional. Tak harus dari Nusantara Sehat, tetapi juga yang lain. Apalagi banyak orang rentan, seperti anak-anak dan lansia tinggal di sana.
Jika pelayanan kesehatan kurang terjamah, bagaimana bisa maju dan masyarakat sehat? Ketika ingin berobat saja harus menjumpai banyak halangan tak terduga, terkait kondisi geografisnya.
"Kebiasaan masyarakat jalan berhari-hari mengantar anak sekolah, masyarakat menggendong anaknya usia 17-an tahun, kakek-kakek, dan lainnya dibawa berobat, tidak ada yang tahu. Kami hanya perantara, tidak ingin dipuji, cuma ingin negara tahu, di sana banyak masyarakat yang perlu diperhatikan kehidupannya. set bppsdmkes jkt @kementriankesehatanRI," pungkas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)