Ketika latihan mereka berenang sedekat mungkin dengan tali lintasan.
"Jika menyentuh tali lintasan di kiri, maka saya harus ke kanan sedikit. Ketika menempel di tali lintasan kanan, maka saya harus menyesuaikan sedikit ke kiri," ungkap atlet para-renang nasional Iberamsyah.
Ketika latihan, para atlet menggunakan tali lintasan yang terbuat dari bahan yang lunak seperti karet sehingga tidak membahayakan.
Namun, di perlombaan, tali lintasan terbuat dari bahan plastik sehingga para atlet sebisa mungkin menghindari berbenturan dengan tali lintasan ketika berlomba.
Baca juga; 6 Cara Cegah Kanker Paru-Paru, Penyakit Ganas yang Serang Istri Indro "Warkop"
Lagi pula mereka harus berenang secepat mungkin untuk menjadi juara dan sebisa mungkin menghindari benturan dengan tali yang bisa memperlambat waktu mereka.
Dari tribun, penonton bisa menyaksikan dengan jelas para atlet yang berlomba berenang sedekat mungkin dengan tali lintasan di nomor tertentu.
Dengan adrenalin yang terpicu dan otot yang bekerja mengayuh secepat mungkin, para atlet paralimpik dengan keterbatasan visibilitas juga harus tahu kapan mereka berbalik ketika mencapai ujung lintasan.
Namun, jika mereka tidak bisa melihat, bagaimana para atlet bisa tahu ujung lintasan? Mengandalkan perasaan saja tidak akan mungkin. Pasalnya, atlet dengan visibilitas rendah pun harus ditutup matanya dengan kacamata tidak tembus pandang ketika berlomba bersama para atlet dengan tingkat kebutaan total.
Jadi mereka secara teknis sama-sama tidak bisa melihat kondisi kolam.