MENJADI orangtua bukanlah tugas yang mudah. Orangtua harus mampu mengajarkan anak nilai-nilai positif. Dengan begitu anak akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang baik. Sayangnya proses untuk mencapai hal tersebut memiliki sejumlah tantangan.
Pola asuh orangtua menjadi salah satu faktor penentu kepribadian anak. Sebagai contoh, bila seorang anak memiliki kebiasaan untuk berbohong, orangtua harus bertindak secara cepat untuk mengatasinya agar kebiasaan ini tidak berlanjut. Salah satunya mengenali tanda-tanda saat anak berbohong.
“Anak yang berbohong biasanya ngomongnya beda-beda, tidak berani menatap mata, kemudian akan muncul bukti-bukti. Bisa sangat terlihat bila anak terbiasa berbohong,” ucap psikolog klini Liza M. Djaprie saat ditemui Okezone dalam sebuah acara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan belum lama ini.
Menurutnya ada 3 alasan yang melandasi seorang anak berbohong. Pertama karena untuk menutupi kekurangannya, kedua takut dimarahi orangtua, dan ketiga bisa jadi anak hanya mencari perhatian dari orangtuanya.
“Awalnya hanya gara-gara itu. Tapi ketika kemudian dia mendapatkan hasil postif dari perilaku berbohong, akhirnya diteruskan menjadi kebiasaan hingga dewasa. Jadi yang harus diperbaiki dari lingkungan sekitarnya adalah mencari tahu kenapa anaknya sampai tidak berani ngomong dengan jujur,” tutur Liza.
Untuk mengatasi kebiasaan anak yang suka berbohong, biasanya dibutuhkan terapi yang melibatkan keluarga. Sebab anak bukan individu yang bisa berdiri sendiri. Dirinya masih membutuhkan peran orangtua sehingga akan ada banyak sekali intervensi dan perubahan. Namun bila kebiasaan ini tidak dihentikan, maka akan berlanjut hingga dewasa dan menjadikan anak sebagai pribadi pembohong.