Crissinda akhirnya memutuskan menggunakan rumah tersebut untuk fasilitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Ia melihat, masih banyak anak-anak di usia dini di Jakarta tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya.
Awalnya, kata Crissinda, Flying Star hanya menampung anak-anak dari keluarga tidak mampu dan tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Rupanya dalam perkembangannya, kehadiran Flying Star direspon positif oleh warga sekitar. Mereka yang memiliki kemampuan secara financial ingin menitipkan anak-anaknya.
"Para orangtua itu bekerja dua-duanya. Mereka ingin menitipkan anak-anaknya dengan alasan selepas sekolah tetap ada yang membimbing. Apalagi lokasi kami dekat dengan rumah mereka," jelas Crissinda.
Tidak hanya mereka yang memiliki kemampuan financial saja. Para orangtua yang 'pas-pasan' juga dapat menitipkan anaknya. "Maksudnya begini. Suaminya kerja sebagai satpam, tapi istrinya ingin membantu perekonomian keluarga dengan bekerja, misalnya sebagai babby sitter. Dia menjaga anak orang, tapi anaknya tetap terjaga dengan baik di Flying Star," ujarnya.
Untuk mereka yang memiliki kemampuan secara financial, kata Crissinda, dikenai biaya penitipan. Ditegaskannya, uang tersebut akan digunakan untuk mensubsidi anak-anak dari keluarga tidak mampu.