Lantas siapa yang pertama boleh melihat rambut para gadis lajang? Orang yang pertama boleh melihat rambut perempuan lajang penduduk Desa Huangluo Yao hanyalah suaminya saja. Si suami pun baru bisa melihat rambut indah istrinya saat hari pernikahan. Jika ada pria yang sembarang melihat rambut seorang gadis sebelum pernikahan, maka risikonya dia harus tinggal di kediamannya selama tiga tahun sebagai menantu keluarga si gadis.
Baca juga: Terserang DBD, 5 Warga Bojonegoro Meninggal
Keharusan memanjangkan rambut bukan tanpa alasan, tapi ada arti yang sangat penting dan mendalam. Rambut yang dipanjangkan memiliki arti panjang dan sejahtera, simbol umur panjang, kekayaan, simbol kemakmuran, dan nasib baik. Jadi, tidaklah heran jika para perempuan di Desa Huangluo tepatnya etnis Yao Merah sangat menghargai rambut mereka.
Tradisi rambut panjang diiringi dengan tradisi atau kebiasaan merawat rambut yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak usia memasuki 12 tahun, para gadis telah diajarkan memelihara rambut. Dalam merawat rambut pun mereka tidak sekadar merawat, tapi menggunakan bahan-bahan alami, seperti menyisir menggunakan sisir terbuat dari kayu, menyisir dengan hati-hati, dan sampo yang digunakan pun terbuat dari air cucian beras dan bahan-bahan herbal berasal dari gunung.
(Fakhri Rezy)