Sementara studi tentang anak kembar seperti ini dapat membantu kita memahami sifat-sifat dalam sekelompok besar orang, kemajuan sains baru-baru ini mengungkapkan lebih banyak tentang pengaruh gen pada individu.
Belakangan, para peneliti cukup sukses mengidentifikasi variasi genetik yang terkait dengan pencapaian pendidikan, melalui upaya yang disebut studi asosiasi genom keseluruhan (GWAS).
Studi-studi ini mengidentifikasi penanda genetik yang terkait dengan ciri-ciri tertentu. Namun, masing-masing penanda genetik menjelaskan proporsi yang sangat kecil (kurang dari 0,1%) dari perbedaan dalam kinerja individu di sekolah.
Ribuan penanda genetik yang ditemukan dalam studi GWAS dirangkum untuk menghitung 'skor poligenik' keseluruhan genom, dengan metode yang dikembangkan baru-baru ini.
Skor itu kini digunakan, dengan tingkat akurasi yang terus meningkat, untuk memprediksi variasi dalam suatu sifat, seperti prestasi sekolah, pada orang-orang yang tidak terkait satu sama lain.
Sebagai bagian dari studi terbaru, para peneliti menggunakan data dari analisis GWAS sebelumnya untuk menciptakan skor poligenik untuk pencapaian pendidikan.
Mereka menghitung skor untuk setiap orang dari 6.000 pasang kembar kami (sehingga setiap orang di bagian penelitian ini tidak terkait). Ini memprediksi apakah mereka akan menunjukkan kinerja baik selama masa sekolah.
Prediksi ini berkisar dari memperhitungkan 4% variasi dalam pencapaian pendidikan pada awal sekolah dasar, hingga 10% variasi pada tingkat GCSE. Temuan kami mengkonfirmasi hasil dari bagian pertama penelitian kami—bahwa varian genetik yang sama berperan dalam menjelaskan kenapa anak-anak berbeda dalam pencapaian di setiap tahap perkembangan.
Temuan yang memperlihatkan bahwa faktor genetik mempengaruhi seberapa baik kinerja anak selama masa sekolah, dapat memberikan dorongan tambahan untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan intervensi sedini mungkin, karena masalah mereka cenderung bertahan sepanjang tahun-tahun sekolah.
Di masa depan, prediksi skor poligenik, bersama dengan prediksi risiko lingkungan—seperti paparan pada lingkungan, keluarga, dan karakteristik sekolah tertentu—mungkin dapat menjadi alat untuk mengidentifikasi anak-anak dengan masalah pendidikan di usia yang sangat dini.
Mereka kemudian dapat diberikan program belajar yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Contohnya, kita bisa menggunakan tes DNA saat lahir untuk mengidentifikasi anak-anak dengan risiko genetik untuk mengembangkan kesulitan membaca di kemudian hari, dan memberikan intervensi di usia dini.
Karena intervensi pencegahan berpeluang lebih besar untuk berhasil di awal kehidupan, salah satu kekuatan besar skor poligenik adalah kemampuan prediksi yang akurat pada saat kelahiran maupun di kemudian hari, sehingga dapat membantu khususnya anak-anak yang kemungkinan besar akan mengalami kesulitan.
(Muhammad Saifullah )