Mengulas Mitos Bayi Tabung, Benarkah Bisa Lepas dari Rahim?

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Jum'at 31 Agustus 2018 17:29 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

FENOMENA kehamilan dengan In Virto Fertilization (IVF) atau bayi tabung semakin berkembang. Tercatat, sampai saat ini diperkirakan sudah ada 8 juta anak dari kehamilan dengan cara ini.

Di Indonesia sendiri, dari tahun 2009-sekarang, diperkirakan sudah ada sekitar 10.000 anak dari proses bayi tabung yang berhasil dilahirkan ke dunia. Angka ini diperkirakan lebih banyak lagi, mengingat mungkin ada data yang tidak tercatat sebelumnya.

Bayi tabung pun mulai disadari mereka yang sudah melek kesehatan. Ya, mungkin Anda dulu memikirkan bahwa proses bayi tabung hanya untuk mereka yang sudah mencoba memiliki anak bertahun-tahun tapi akhirnya belum berhasil juga. Makanya, pasangan suami istri melakukan bayi tabung.

Baca Juga: Kebelet Ngeseks Tapi Tak Menemukan Ranjang? Coba 6 Posisi Ini

Kini, tren tersebut mulai bergeser ke generasi yang lebih muda. Ya, menurut beberapa referensi, sudah banyak orangtua bayi tabung yang usianya di bawah 30 tahun. Mereka melakukan bayi tabung dengan alasan kesehatan.

Misalnya saja, ada masalah dalam membentuk embrio dalam rahim atau sulitnya menyatukan sel telur dengan sperma. Pun masalah kesehatan lainnya yang menyebabkan proses kehamilan menjadi terhambat.

Namun, ada dua mitos yang paling meresahkan mengenai bayi tabung ini. Mitos pertama mengenai kerentanan anak bayi tabung dari paparan penyakit.

"Sudah ada penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa anak dari bayi tabung terbukti tidak memiliki perbedaan tumbuh kembang, kecacatan, dan kecerdasannya. Jadi, jangan khawatir," ungkap Prof Budi, saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (30/8/2018).

Baca Juga: Pesona Farah Ann, Atlet Malaysia yang Pernah Dikritik karena Umbar Aurat

Menurut dia, masih adanya mitos yang berkembang karena belum ada informasi yang tepat. Stigma bayi tabung yang begitu kuat di masyarakat Indonesia juga yang kemudian membuat masalah ini sulit dilerai.

"Dengan penyebaran informasi yang tepat tentunya, hal ini diharapkan bisa membukakan pikiran masyarakat mengenai bayi tabung," tambahnya.

Dia melanjutkan, hanya ada hal yang mesti diperhatikan. Kromosom bayi belum bisa diperbaiki dan hal ini yang kemudian membuat perbedaan penyakit dari anak bayi tabung dengan bayi normal. Jadi, ini bicara mengenai background dari si anak dan orangtuanya.

Selanjutnya, mitos yang mengkhawatirkan lainnya adalah ketakutan akan "lepas"-nya embrio setelah ditransferkan ke dalam rahim. Prof Budi menjelaskan banyak ibu pasca-embrio transfer akhirnya memilih berdiam diri di rumah atau bed rest. Hal ini karena mereka takut beraktivitas, karena dianggap akan mengancam jabang bayinya.

"Ini salah banget! Kami merekomendasikan mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya saja memang aktivitasnya tidak usah yang terlalu padat. Kalau pun mau istirahat, dua hari cukup," paparnya.

Selain itu, Prof Budi menjelaskan fakta bahwa ada penelitian yang membuktikan bahwa embrio yang sudah ditempatkan di rahim akan aman. "Penelitian itu meminta si ibu untuk lompat-lompat dan embrio tidak bergerak sama sekali. Jadi, bisa dikatakan aman," tegasnya.

Dia menambahkan, dengan beraktivitas si ibu tidak merasa stres dan terlalu terbebani pikiran akan jabang bayinya. "Malah, ada fakta medis menjelaskan bahwa ada ibu yang akhirnya memilih berdiam diri dan tidak beraktivitas, karena dia stres, embrionya mati dan itu berarti proses kehamilan bayi tabung gagal," tambahnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya