Dalam waktu dekat, produsen farmasi terbesar di Indonesia itu menggandeng lembaga riset nasional. Para periset mulai dikumpulkan untuk berembuk memilih bahan vaksin selain dari hewani.
"Para periset ini berkumpul sama-sama mengumpulkan penelitian untuk percepatan produk baru. Kalau dilakukan sendiri sangat lama, karena target kami uji laboratorium awal selesai tahun 2020," beber Rahman.
Di samping itu, jelasnya, untuk pengembangan satu produk vaksin butuh mikro trial ke hewan uji dan pasien. Waktunya tidak sebentar, apalagi di satu sisi para peneliti berkumpul.
"Kalau berhasil, barulah bisa dikatakan produk vaksin itu terjamin khasiat, kualitas, dan keamanan terjamin," simpulnya.
(Utami Evi Riyani)