DI NEGARA yang terletak di bagian paling utara Eropa, situasinya terang-terangan berbeda dengan Negara lainnya. Sering dikenal dengan lahirnya bangsa Viking, olahraga salju, dan teluk yang terbentuk dari lelehan gletser, Norwegia kini dikenal sebagai satu-satunya negara maju di Eropa yang anak-anak mudanya kaya raya.
Penduduk berusia di 30 tahun awal di Norwegia memiliki pendapatan siap pakai (disposable income) per tahun sekitar USD56.000 atau Rp814 juta.
Baca juga: Youtuber Ini Beberkan Pentingnya Kebersihan Kulit saat di Depan Kamera
Orang muda di Norwegia tengah menikmati kenaikan 13% pendapatan siap pakai, yang telah dipotong pajak, dibandingkan Generasi X (yang lahir antara 1966 dan 1980) ketika mereka mencapai usia yang sama.
Angka yang mengejutkan itu berasal dari data komperatif persebaran kekayaan terbesar, yaitu pusat data penghasilan Luxemburg. Data itu dianalisis dalam laporan terakhir tentang pendapatan per generasi untuk lembaga riset berbasis di Inggris, The Resolution Fondation.
Bandingkan temuan ini dengan yang dialami generasi muda di negara kuat: pendapatan milenial di AS turun 5% dibandingkan era sebelumnya, sementara di Jerman 9%.
Bagi mereka yang tinggal di Eropa selatan, pendapatan siap pakai bahkan turun hingga 30%. Negara-negara di kawasan itu paling merasakan dampak buruk krisis ekonomi global tahun 2008.
Tingkat pengangguran di kalangan muda-mudi Norwegia yang berusia 15-29 tahun juga terhitung rendah, yakni 9,4%, sementara di para anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) rata-rata berkisar 13,9%.
Baca juga: Dari David Beckham hingga John Legend Ikut Rasakan Gempa Lombok, Bagaimana Responsnya?
'Situasi mujur'
Pada hari terik yang jarang terjadi di ibu kota Norwegia, Oslo, tak sulit menemukan orang muda yang menikmati keberuntungan negaranya.
"Saya tidak begitu memikirkan bagaimana cara saya menghabiskan uang," kata Aleksander Aarnes, sarjana berusia 25 tahun.
"Saya pergi ke teater setidaknya sekali sebulan, menonton film di biskop satu kali dalam sebulan. Saya bisa nongkrong, makan, dan minum di luar bersama teman-teman. Saya juga pergi berlibur."
Aarnes meniti karier sebagai penulis musik teater, namun belum meraih apapun dari perjuangannya. Maka dia membiayai gaya hidupnya dengan cara bekerja satu atau dua giliran di toko serba ada di Korsvoll, kota sepi yang penuh rumah kayu berwarna pastel.
Pemuda itu berbagi apartemen dengan seorang temannya di pinggiran kota, berjarak 20 menit perjalanan bus dari pusat kota.
Baca juga: Mau Dilirik Wanita? Jangan Cuma Modal Tampang Doang!
"Saya sangat paham atas situasi mujur yang saya jalani. Saya tidak harus mengorbankan diri untuk mengejar karier yang saya dambakan," ujarnya.
Gaji per jam yang didapatkan Aarnes sekitar USD20 atau Rp280 ribu dan meningkat saat akhir pekan atau pada giliran kerja malam hari.
Setelah potongan pajak yang relatif tinggi di wilayah Skandinavia, Aaron mendapatkan sekitar USD1.700 atau Rp24 juta per bulan.
Setengah penghasilan itu digunakannya untuk sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan lainnya. Sisanya ia gunakan untuk apapun yang disukainya.
Lebih jauh di Korsvoll, analis bisnis berusia 31 tahun, Øystein, memasukkan peralatan barbekyu ke mobil BMW miliknya. Ia tidak ingin menyebut nama lengkapnya dan berkata, "meski Norwegia adalah negara kaya, masyarakatnya tak ingin membicarakan seberapa tajir mereka."
Namun Øystein mengaku, ketika berumur 27 tahun, penghasilannya cukup untuk membeli apartemen dua kamar di kawasan tepi laut. Ia juga rutin plesir ke AS dan Asia.