SEJALAN dengan perkembangan teknologi, banyak perusahaan startup menjadi ladang penghasilan khususnya bagi kaum milenial. Mereka rupanya mulai mengincar bekerja di tempat tersebut daripada harus bersaing di perusahaan besar.
Bekerja di bidang startup, membuat kaum muda merasa dihargai dari segi kreativitasnya. Mereka merasa bekerja adalah bagian dari pelajaran yang menyenangkan, karena tidak terlalu terikat dalam sebuah aturan baku.
Perencana Keuangan Ahmad Gozali mengatakan, sekarang ini generasi milenial mencari pekerjaan bukan lagi yang mapan seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jarang dari mereka yang ingin bekerja di perusahaan besar seperti pendahulunya.
"Generasi milenial lebih semangat mencari pekerjaan yang sesuai spesialisasinya. Rata-rata mereka tidak mencari jenjang karier, tapi yang penting keahliannya bisa terpakai," ujarnya saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.
Baca Juga: 3 Trik Buat Penis Tampak Lebih Besar dan Tahan Lama di Ranjang
Ketika bekerja di perusahaan start up, lanjut Gozali, anak muda merasa kalau minat dan hobinya jadi tersalurkan. Sebabnya, anak zaman now lebih merasa dihargai saat kreativitasnya dipakai
Dia mencontohkan, role modelnya bukan lagi ingin punya bos dari perusahaan besar dengan pakaian rapi berdasi. Tapi mereka ingin menjadi sosok semacam Mark Zuckerberg, yang menggunakan pakaian bebas dan bisa kerja fleksibel di mana saja. "Saya rasa itu bagian dari semangat banyak anak muda minat untuk bekerja di startup," terangnya.
Terlebih, saat melamar pekerja di perusahaan bonafit, rata-rata pemilik usaha butuh tenaga kerja berpengalaman. Sementara di bidang startup, kaum milenial tidak perlu jago pengalaman yang cukup matang.
"Bergabung di perusahaan startup dianggap lebih terbuka, dalam hal mencari ide baru dan tidak perlu pengalaman. Sementara itu, ketika masuk di perusahaan mapan seringkali mencari orang yang sudah berpengalaman," tuturnya.
Baca Juga: Jalur Kereta Api Hejaz, Wakaf Umat Islam Seluruh Dunia
Namun, mereka harus mempertimbangkan soal gaji. Sebab alasan realistis yang hampir ada di setiap benak pekerja tersebut adalah punya penghasilan tinggi.
Gozali mengatakan, umumnya kaum milenial tidak memikirkan besaran gaji yang didapatkan saat bekerja di bidang startup. Ini masih jadi pertimbangan, tapi soal "kepastian" sudah tidak terlalu lagi dipentingkan. "Mengingat sebagian startup juga "bakar uang" maka gaji besar bisa jadi diperoleh lebih mudah di startup," simpulnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)