Apa filosofi di balik kostum tersebut? Nadya Tolokonnikova, salah satu anggotanya, mengatakan, semuanya memang bertumpu pada arti kata ‘Pussy Riot’. Di kutip dari V Magazine, menurutnya, riot bisa diartikan sebagai ‘gila’, sedangkan pussy bisa dimak nai sebagai ‘stoking’ dan ‘gaun’.
“Memakai stoking dan gaun buat kami sangat tidak enak dan tidak nyaman. Kami tidak pernah memakai itu dalam keseharian kami, tapi kami harus mengenakannya agar sesuai dengan citra pussy yang ingin kami ciptakan,” ujar Nadya. Sementara soal warna yang mencolok, alasannya lebih sederhana lagi.
“Ini alasan yang bodoh. Kami hanya tidak ingin dilihat sebagai teroris. Kami tidak ingin menakut-nakuti orang, kami ingin membawa kesenangan, jadi kami memutuskan untuk terlihat seperti badut,” ucapnya. Tidak hanya saat tampil di muka umum, Nadya mengaku saat di penjara tetap memakai seragam khas kelompoknya.
BACA JUGA: