Sebagai gambaran, dalam skema besar, sedotan menyumbang sekitar 2.000 ton dari total 9 juta ton sampah plastik, atau sekitar 0,02% dari total keseluruhan. Akankah larangan penggunaan sedotan plastik ini setimpal daripada memenuhi kebutuhan para penyandang disabilitas?
Imani Barbarin, seorang penulis sekaligus penyandang disabilitas mengatakan kepada Metro, Jumat (20/7/2018), ia menganggap bahwa keputusan tersebut merupakan langkah yang sangat diskriminatif bagi kaum disabilitas.
"Sedotan itu awalnya digunakan oleh rumah sakit dan merupakan fasilitas perawatan untuk menjaga pasien agar tetap terhidrasi. Alat ini kemudian dipopulerkan oleh toko-toko makanan dan restoran cepat saji," tutur Imani.
Ia menambahkan, pada dasarnya orang-orang 'normal' hanya menggunakan sedotan untuk alasan komersial, dan sekarang mereka mencoba membatasi akses tersebut karena alasan lingkungan.
(Baca Juga:Ini Dia Dukagjin Lipa, Ayah Dua Lipa yang Tampannya Bikin Salah Fokus)
"Secara realistis, melarang penggunaan sedotan tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Namun justru membuat orang-orang penyandang disabiltas terisolasi dan terlupakan. Larangan tersebut membuktikan bahwa selama ini para pembuat kebijakan tidak pernah memikirkan para penyandang disabilitas sama sekali," tegasnya.