PUSAT kota Pays d'Oruge Normandia, sekira satu jam perjalanan darat dari pantai D-Day utara Prancis, terdapat sebuah desa yang dihuni oleh 200 orang bernama Camembert. Desa itu dikelilingi oleh sapi putih dan coklat yang merumput di padang rumput hijau yang subur.
Menurut legenda, seorang wanita bernama Marie Harel melindungi seorang pendeta yang kabur dari Revolusi Prancis. Kala itu mereka diberi pilihan untuk bersumpah setia kepada Republik baru atau mati di guillotine. Alhasil Imam refrakter memilih untuk melarikan diri ke Inggris melalui Normandia. Saat itu ia tak sengaja bertemu Harel di sepanjang pelariannya.
Baca Juga :
Untuk mengucapkan terima kasih atas keramahannya, imam itu membagikan resep brie, yang merupakan keju dari wilayah di sekitar Paris. Harel pun akhirnya menggunakan susu Normande lokal dan cetakan Livarot yang dicuci dengan air. Alhasil keju baru tersebut diberi nama sesuai dengan desa tempat membuatnya yakni camembert.
Meskipun kebenaran legenda ini tidak dapat dikonfirmasi, namun ahli antropologi kuliner Georges Carantino menyatakan bahwa cerita turun temurun tersebut sudah menjadi kenyataan.
"Dalam hal apapun, hal ini membangkitkan bahwa memang ada transmisi teknik dari daerah seperti Brie, di mana jenis keju ini sangat tua, untuk [Pays d'Auge], di mana itu adalah tambahan yang jauh lebih baru di daerah itu," tutur Georges, sebagaimana dilansir BBC, Senin (14/7/2018).
Tanpa mempedulikan bagaimana teknik itu datang, wilayah Normandia yang sebelumnya hanya menghasilkan keju yang sudah dicuci seperti Livarot atau Pont l'Evêque tiba-tiba mulai membuat keju berkulit seperti brie di abad ke-18.
Alhasil keju camembert sudah tidak dapat dipisahkan dari Camembert sejak saat itu. Tentu saja, tidak adil untuk mengatakan bahwa camembert hanya dibuat di Normandia. Pasalnya keju ini dibuat dengan spora Penicillium camemberti yang menciptakan cetakan putih berbulu halus.