Setelah di gali dari makamnya, mumi-mumi tersebut akan berjalan di sekitar desa dengan mengikuti garis lurus. Menurut mitos, garis-garis ini terhubung dengan Hyang, entitas spritual dengan kekuatan supranatural. Dengan mengikuti garis lurus, itu tandanya tubuh yang sudah meninggal harus mengikuti jalan yang sama.
Baca juga: Langgar Protokol Kerajaan, Meghan Markle Nekat Pakai Gaun Lengan Pendek
Orang-orang Toraja dilaporkan takut untuk melakukan perjalanan jauh, pasalnya tubuh mereka harus kembali ke desa dan bertemu dengan keluarga setelah meninggal. Menurut kepercayaan kuno Toraja, roh yang sudah meninggal harus selalu kembali ke desa asalnya. Alhasil mayat orang Toraja harus dikuburkan di kampung halamannya. Keluarga akan pergi ke tempat pemakaman dan menemani almarhum dengan mengatarnya kembali ke desa.
Memang cukup aneh jika tradisi masyarakat Toraja berpusat pada kematian. Sebelum abad ke-20, orang Toraja dilaporkan tinggal di desa-desa otonom, di mana mereka mempraktikkan animisme pandangan dunia bahwa entitas nob manusia termasuk hewan, tumbuhan dan benda mati memiliki esensi spiritual.
Alhasil ketika orang pada umumnya mengumpulkan semua harta kekayaan untuk merayakan acara pernikahan atau hari ulang tahun besar, namun keluarga Toraja menilai pemakaman sebagai acara paling penting dari semuanya.
(Fakhri Rezy)