Ditemui dalam seminar media bertajuk "World No Tobacco Day" di Kantor Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Salemba, Jakarta Pusat, dr Piprim menjelaskan bila kandungan racun pada tembakau atau rokok dapat menghambat perkembangan janin. "Memang belum jelas hubungan antara kebiasaan merokok pada ibu hamil dengan PJB. Tapi seperti yang saya sebutkan tadi kebiasaan merokok dapat menyebabkan terjadinya hipoksia yang disebabkan karbon monoksida, nikotin, dan berkurangnya asupan essensial untuk jaringan embrio," jelasnya.
Peningkatan risiko PJB mulai bisa terjadi pada saat pembuahan pada ibu merokok atau yang sebelumnya pernah merokok. Malah pada ibu hamil yang merokok memiliki risiko 44% untuk melahirkan anak dengan defek septum atau kelainan jantung. Risiko juga bisa dialami oleh ibu yang tidak merokok tapi sering menghirup asap atau terkena paparan rokok.
Baca juga: Orangtua Gugat Putranya karena Masih Tinggal Menumpang
Selain PJB, merokok dapat menyebabkan bayi lahir prematur, kelainan bawaan lain seperti bibir sumbing dan tabung saraf tidak menutup, serta lahir mati atau keguguran. Sedangkan pada perempuan, merokok dapat menyebabkan infertilitas. Kondisi itu nantinya bisa membuat dirinya mengalami kesulitan untuk hamil.
(Fakhri Rezy)