Lewat eksperimen itu benar-benar terbukti bahwa TC akan tertawa terbahak-bahak ketika melihat orang lain dikelitik seakan dirinya yang jadi korban. Sensasi geli semakin akut ketika TC dapat melihat wajah orang lain yang sedang dikelitik.
Hasil serupa muncul ketika TC melihat orang lain menyentuh beragam permukaan. Sensasi yang dialami orang lain saat menyentuh permukaan itu, turut juga dirasakan olehnya. Ketika orang lain memasukkan tangannya ke air dingin, TC mengaku merasakan basah di tangannya tetapi dengan temperatur yang lebih rendah.
Para peneliti yakin bahwa neuron cermin di otak TC bekerja sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. Konektor-konektor neuron itu baru aktif ketika kita atau seseorang yang kita lihat disentuh. Namun, otak biasanya menghentikan respons ketika orang lain merasakan sensasi disentuh.
Dalam kasus TC, sinyal otak untuk menutup sensasi itu ke neuron sangat lemah. Kondisi itu mengakibatkan TC mengalami apa yang dirasakan orang lain seakan sedang mengalaminya sendiri. Hasil penelitian menunjukkan hanya 1,6-2,5% populasi di dunia yang menderita kelainan mirror-touch synesthesia.
(Renny Sundayani)