Maka, pertanyaan sebenarnya bukan soal bagaimana batu-batu legendaris ini begitu sering muncul di seluruh dunia, tapi justru kenapa.
Menurut tulisan sejarawan agama George F Moore, batu mewarisi arti penting keagamaan sejak awal peradaban manusia.
Foto: EPA/Fazry Ismail
"Pemujaan akan batu suci adalah salah satu bentuk agama tertua yang ada buktinya, dan salah satu yang paling universal," tulis Moore dalam American Journal of Archaeology.
"Bahwa pemujaan batu dalam kepercayaan modern tetap ada dan terbukti tak terhapuskan," tambahnya.
Moore menjelaskan bahwa batu-batu itu awalnya mendapat tempat suci karena menjadi altar bagi para pemuja, dan batu-batu yang berukuran besar atau berbentuk unik akan dipilih, karena dianggap lebih dibentuk secara istimewa oleh tangan yang kuasa.
Foto: The Meteoritical Society D.Comelli et al
Keberadaan batu suci seperti itu bisa terlihat dari beberapa agama kuno serta kontemporer, seperti Sledovik di Rusia atau Hajar Aswad dalam Islam.
Meski begitu, salah satu catatan paling awal akan batu bertuah berasal dari Yunani Kuno, yang beberapa kali menyebut Baetylia - yang kemungkinan adalah 'batu jiwa' pertama.
Batu-batu ini diyakini memiliki kekuatan hidup yang dihembuskan oleh para dewa, dan diberikan jiwa sehingga bisa bergerak sendiri, atau bahkan berbicara.
Dan lebih masuk akal jika orang di zaman dahulu menempelkan karakter semacam itu pada batu karena batu sesekali jatuh dari langit.
Bagi mereka yang belum mengetahui rahasia galaksi, hujan meteor tampak seperti berkah dari surga, dan meteor yang dikumpulkan pun dianggap memiliki keterkaitan dengan ilahi.