Claudia Azizah, Selalu Menangis saat Mendengar Azan hingga Menjadi Mualaf

Ahmad Luthfi, Jurnalis
Rabu 02 Mei 2018 07:01 WIB
(Foto: Aboutislam)
Share :

CLAUDIA Azizah, perempuan asal Jerman mengawali kisahnya sebagai mualaf berawal dari suara azan yang sering ia dengar. Ia duduk di masjid besar di International Islamic University di Malaysia, mendengarkan azan yang dikumandangkan.

"Air mata jatuh di mataku. Saya tidak percaya bahwa Allah membawaku ke sini dan memungkinkan aku untuk mendengar panggilan untuk berdoa setiap hari, lima kali sehari, tujuh hari per pekan," ujar Claudia, seperti dilansir Aboutislam, Selasa (1/5/2018).

Ia mengaku merasa bersyukur di dalam hatinya yang membuatnya sulit untuk bernapas. "Allah menyelamatkan aku lagi, saya pikir lagi dan lagi," katanya.

Ia berdoa untuk mereka yang duduk di masjid ini dan setiap umat Muslim untuk mencapai kesuksesan, di mana Allah memanggil kita di setiap azan.

"Dan saya merendah kepada-Nya, untuk Sang Maha Pencipta," tuturnya.

 

(Foto: Reuters)

Ini sudah lebih dari 10 tahun yang lalu bahwa Allah menggerakan hatinya untuk menerima Panggilan-Nya dan menjadi hamba-Nya.

"Saya tidak tahu mengapa Dia memilih saya untuk memberikan saya petunjuk, kenapa Dia memberikan cahaya Islam di hati saya," ujarnya.

Ia masih tidak menduga bagaimana ia yang berasal dari keluarga ateis, yang hidup dalam lingkungan komunis Jerman Timur lalu bisa menyembah-Nya. Ia berdoa setiap hari untuk mengubah hatinya, menjaga hatinya pada agama-Nya.

Masa Kecil

Ketika Claudia masih kecil, tidak ada yang memberitahukannya tentang Tuhan, tidak ada tanda atau simbol agama yang ia temukan. Hidup terasa sepi tanpa spiritualitas.

"Kami merayakan Natal, tetapi hanya karena ini merupakan tradisi Jerman. Ada pohon Natal, lilin dan lagu Natal, terkadang ini tertanam dengan pertimbangan di dalam hati," terangnya.

Baca juga: Terlalu Sering Minum Air Lemon, Ini Efek Buruk yang Mungkin Anda Alami

"Kami tidak pernah ke gereja dan kami tidak pernah berdoa untuk siapapun atau apapun," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa orangtuanya dididik dalam rezim komunis-sosialis bekas Republik Demokratik Jerman. Sebagai siswa yang luar biasa dan menjanjikan, mereka dikirim ke Rusia, untuk mempelajari bahasa dan Marxisme-Komunisme selama lima tahun.

Baca juga: Inilah 5 Wajah Pria Paling Tampan di Dunia yang Pesonanya Tak Pernah Luntur

Saat kembali ke rumah, mereka bekerja di universitas. Mereka meyakini bahwa tidak ada Tuhan, bahwa agama adalah buatan manusia dan candu bagi massa. Akan tetapi, mereka tidak pernah mendiskriminasi orang-orang yang percaya, namun hal itu bukan untuk mereka.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya