Jawaban itu ia dapatkan setelah beberapa kali membawa anaknya ke psikolog anak dan terapi wicara namun tidak ditemui masalah.
“Respon dia (pada waktu itu) positif, reaksi dia juga oke, diajak ngomong ngerti, jadi memang ternyata hanya masalah bahasa. Dia itu bingung, kalau di sekolah ngomongnya Bahasa Indonesia, (sedangkan) teman-temannya enggak ada yang bisa respon dia ngomong apa. Tapi kalau di rumah sama aku dia sangat talkative diajak ngomong nyambung,” tambah Zee Zee.
Berdasarkan hal tersebut, dirinya bersama sang suami berusaha mencari solusi. Keduanya membiasakan Khaleev untuk menonton kartun berbahasa Indonesia atau Melayu agar bisa lebih aktif berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, sang anak tetap disekolahkan di tempat yang sama hanya saja Zee Zee berdiskusi kepada pihak sekolah mengenai kondisinya.
“Akhirnya gurunya mengikuti maunya si Khaleev. Jadi kaya misalnya kalau teman-temannya ngomong soal warna dia ngomongnya colour,” ucapnya. Cara itu dirasa cukup berhasil karena memasuki usia empat tahun sang anak sudah mulai lancar dan memiliki keberanian untuk bicara.