Kota pertama yang disinggahi oleh Pastor Verbraak untuk melaksanakan tugasnya adalah Padang. Ia berada di sana hingga 1874 dan kemudian dipindah tugaskan ke Aceh hingga 1907. Ketika usianya menginjak 77 tahun, Pastor Verbraak memutuskan untuk pensiun karena walaupun fisiknya masih kuat namun penglihatannya sudah melemah.
Setelah pensiun, dirinya memutuskan untuk pindah ke Magelang, Jawa Tengah. Di sana kesehatannya terus menurun. Ia pun menolak untuk mendapatkan perawatan karena menurutnya itu sudah jalan hidup yang harus dilalui. Tiga tahun setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-80, tepatnya 1918, Pastor Verbraak menghembuskan napas terakhirnya di kota militer tersebut.
Kemudian lembaga The Dutch East Indian Army di Bandung memutuskan untuk mendirikan patung untuk mengenang Pastor Verbraak. Mereka pun mengumpulkan dana dan pada 27 Januari 1922 patung yang dirancang oleh seniman Belanda G.J.W Rueb resmi didirikan. Kala itu patung diberi nama Paradisi in Sole Paradisus Terrestris.
Dengan demikian, kisah seram yang melegenda terkait Patung Pastor Verbraak dan kecelakaan pesawat bisa dikatakan tidak benar. Namun kebenaran akan mitos-mitos lain belum bisa dibuktikan hingga sekarang. Besar kemungkinan patung ini dianggap seram karena perawakan dan warnanya.
(Utami Evi Riyani)