PERSOALAN stunting di Indonesia sudah ada sejak 2007. Jumlahnya sekadar mencapai sekitar 8 juta jiwa di Indonesia. Penanganan yang membutuhkan waktu lama membuat masalah ini tidak bisa dilihat hasilnya dalam sekejap mata.
Mengatasi stunting pun bukan menjadi tanggungjawab tunggal Kementerian Kesehatan RI. Ada banyak faktor penyebab dari masalah ini dan membutuhkan penanganan dari pihak lain. Meski begitu, Kementerian Kesehatan tetap memiliki peran penting dalam memberantas masalah ini.
Ketika bicara mengenai masalah stunting, maka yang menjdi fokus perhatian salah satunya adalah gizi. Dari pengaruh gizi yang baru ini yang kemudian membuat si anak bisa mengalami masalah ini. "Jika bicara mengenai stunting, maka sangat erat kaitannya dengan gizi kronik. Di mana, si anak sebetulnya sudah memiliki faktor penyebab sejak lama dan akhirnya bermanifestasi menjadi masalah stunting ini," terang Direktur Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Ir. Doddy Izwardy, MA, pada Okezone di Gedung Kemenkes Jakarta, Senin (12/3/2018).
Gizi kronik, sambung Doddy, adalah masalah intergenerasi. Maksudnya adalah bukan hanya menyoal bagaimana gizi si ibu dan anak, tetapi juga harus dilihat bagaimana kehidupan nenek dan kakek si anak. Sebab, masalah ini bukan kasus yang terjadi dalam waktu singkat.
Dalam mengatasi masalah ini, Doddy menegaskan bahwa penting bagi semua masyarakat untuk lebih aware akan kesehatan dirinya, khususnya ibu dan calon ibu. Sebab, apapun yang dikonsumsi ibu, itu akan memengaruhi kondisi janin saat kehamilan. Jika gizi yang diasup kurang baik, maka kemungkinan terjadinya stunting akan sangat tinggi.
Doddy menambahkan, dalam mengatasi masalah ini, pemerintah pusat melakukan dua tipe intervensi. Yang pertama spesifik yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan intervensi sensitif yang dilakukan kementerian di luar kesehatan.
Untuk intervensi spesifik sendiri, terang Doddy, Kemenkes selalu menggerakan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Hal ini menjadi penting untuk memantau bagaimana kondisi ibu dan janin. Jika terjadi penurunan berat tubuh, maka ahli kesehatan akan membantu mengatasi masalah ini.
"Perlu Anda ketahui, selama masa kehamilan, seharusnya ibu mengalami kenaikan masa tubuh sekitar 9-12 kilogram. Nah, kebanyakan ibu di Indonesia kenaikan beban tubuhnya hanya 7 kilogram. Belum lagi dilihat dari kualitas asupannya, protein kah yang tinggi atau karbohidrat," papar Doddy.
Kemenkes juga terus melakukan upaya promosi gizi baik, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengonsumsi makanan yang sehat, seperti buah dan sayur. Tak berhenti sampai di situ, pemberian tablet tambah darah dan gerakan ASI eksklusif pun tidak henti-hentinya dilakukan untuk mengentaskan masalah ini.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada ibu hamil, balita, dan anak juga masih terus digalakan. Melalui upaya ini diharapkan ibu dan calon generasi bangsa memiliki gizi yang baik.
Sementara itu, untuk intervensi sensitif sendiri, upaya yang sudah dilakukan seperti promosi KB untuk menjamin kehamilan di usia yang tepat. "Tidak bisa dipungkiri, pernikahan dini masih tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, kehamilan setahun dua kali pun masih marak terjadi dan ini sangat memengaruhi kualitas jabang bayi," ucap Doddy.
Ketersediaan air bersih pun terus diupayakan pemerintah. Sebab, sadar atau tidak, dengan adanya air bersih yang cukup, maka kehidupan seseorang akan menjadi lebih baik dan lebih bisa menghindari diri dari berbagai masalah kesehatan. Pemanfaatan dana desa pun semestinya harus difokuskan juga pada perbaikan gizi masyarakat.
"Dengan intervensi ini, diharapkan masalah stunting bisa diatasi dan sudah menjadi harapan bersama, generasi penerus bangsa bisa jauh lebih baik dan bisa menjadi pribadi yang berkualitas," pungkas Doddy.
(Hessy Trishandiani)