PENGHUNI apartemen selalu dianggap hidup individualistis. Tidak adanya sosialisasi dengan penghuni apartemen lain memungkinkan terjadi lingkungan yang tidak saling mengenal.
Menurut psikolog Nirmanisa Ruskin, peran pengelola apartemen menjadi penting akibat perubahan gaya hidup yang terjadi sebagai konsekuensi tinggal di vertical house (apartemen) di mana sisi-sisi kekeluargaan dan kehidupan bertetangga hampir tidak dapat lagi dirasakan.
“Penghuni apartemen umumnya sangat menekankan pada prinsip individualisme yang tinggi dan area privasi. Padahal manusia merupakan makhluk sosial, butuh untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Hal yang mudah dilakukan ketika tinggal di area perumahan yang bersifat landed house namun akan sulit dilakukan di apartemen,” tutur psikolog jebolan Universitas Gadjah Mada dalam rilis yang diterima Okezone.
(Baca Juga: Tidak Lagi Formal, Tren Furniture Kantor Kini Lebih Santai dan Eye Catching)
Situasi ini, lanjutnya, tentu saja akan berpotensi untuk timbulnya permasalahan sosial bila tidak dikelola dengan baik. Karena harus disadari menjadi penghuni apartemen akan sangat menuntut kematangan pribadi untuk dapat saling menjaga area privasi dari penghuni lain.