Sementara itu, jika bicara mengenai etimologi nama motif tersebut, truntum berasal dari istilah teruntum-tuntum (Bahasa Jawa, Red) yang artinya tumbuh lagi. Hal ini sejalan dengan perjuangan Ratu Kencono yang tidak henti-hentinya berjuang akan cintanya pada sang raja dan berharap cinta tersebut disambut dengan kasih sayang yang sama.
Mengenai batik Truntum sendiri, batik ini memiliki pola yang halus dan sederhana. Jika diperhatikan secara detail, batik ini seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil atau menyerupai kuntum bunga melati. Beberapa pihak menilainya mirip dengan taburan bintang di langit yang cerah.
Perlu Anda ketahui, karena nilai sejarah dan ajaran moral yang cukup kuat, motif truntum dinobatkan sebagai salah satu jenis pola batik yang paling terkenal di Solo. Motif tersebut akhirnya sampai sekarang popular di banyak wilayah lainnya di Indonesia. Sesuatu yang membanggakan dan cukup bermakna, ya!
(Renny Sundayani)